Tepat Sasaran Cara Iklan Mobile
Operator selular mulai membidik perusahaan kecil menengah sebagai klien beriklan di ponsel. Terobosan baru layaknya oase bagi pengusaha keci...
https://reviewkitabeta.blogspot.com/2014/09/tepat-sasaran-cara-iklan-mobile.html
Operator selular mulai membidik perusahaan kecil menengah sebagai klien beriklan di ponsel. Terobosan baru layaknya oase bagi pengusaha kecil di daerah-daerah yang ekonominya tumbuh tinggi.
Pernahkan Anda bayangkan pengusaha kerupuk udang di Surabaya dapat memasang iklan untuk calon pelanggan yang tinggal di luar kota Surabaya? Kalaupun ada, tentu mereka harus merogoh kantong dalam-dalam. Memang ada media outdoor yang sifatnya above the line yang dipasang di dekat stasiun ataupun bandara, tapi efeknya tidak akan signifikan kalau sekadar memasang tanpa membombardir dengan kampanye yang menusuk. Alhasil, beriklan untuk menggaet pelanggan di luar kota pun terasa musylkil karena ujung-ujungnya pasti mahal
Tapi kini keadaannya berbeda. Cukup membayar ratusan ribu hingga 3 juta-an saja pengusaha kerupuk tadi dapat menggaet calon pelanggan baru dari luar kota sekalipun. Caranya, cukup berlangganan layanan iklan untuk UKM di operator, iklan kerupuk udang itu dapat langsung mampir ke pengguna ponsel saat calon konsumen sedang berada di dekat bandara ataupun stasiun kereta. “Solusi ini untuk prospektif untuk kota-kota di Indonesia, terlebih dengan makin banyaknya industri pangan lokal yang berkembang,” kata Herwinto Chandra Susatyo, Head of M-Advertising XL. Tak perlu mengalokasikan dana yang besar, pengusaha UKM dapat langsung menyasar calon konsumen baru seperti wisatawan lokal ataupun pengusaha lokal yang sedang berkunjung di kota tersebut. “Klien kami bisa memilih target segmen yang diinginkan dan lokasinya. Bentuknya pun bermacam-macam seperti LBS Advertising berbasis SMS, MMS, hingga UMB,”tambah Herwinto.
Tak cuma pengusaha kerupuk saja, menurut Herwinto, pihaknya punya pengalaman menarik bagaimana pengusaha empek-empek di Surabaya memasarkan produknya melalui layanan iklan mobile untuk UKM tersebut. “Bahkan pengusaha townhouse di Surabaya juga memanfaatkan keberadaan iklan ini untuk menggaet calon pembeli potensial yang berada di wilayah Makassar dan Jakarta,” lanjut Herwin. Disinilah kemudian layanan advertising operator bisa dikustomisasi sesuai keinginan misalnya menyasar pengguna ponsel di daerah tertentu ataupun dengan target segmentasi pasar tertentu. Hasilnya terbilang efektif. Empek-empek dan kerupuk udang yang dipasarkan lewat mobile memperoleh efek viral marketing. Bahkan, menurut Herwinto, pengusaha kerupuk udang tadi kini mengalokasikan dana hingga ratusan juta rupiah untuk beriklan di mobile. Tak heran bila kemudian divisi mobile advertising yang dikomandoi Herwinto mampu meraup keuntungan berlipat pada 2014. “Kalau 2013 kami hanya bisa memperoleh sekitar 100 juta rupiah dari iklan mobile , semester tahun ini kami sudah di atas 1,2 milyar,”ujarnya semangat.
Penggunaan sumber daya operator yang dimanfaatkan secara maksimal menjadi kunci keberhasilan layanan ini. Mengaca kepada bagaimana tarif sachet mampu mengerek jumlah pelanggan sekaligus omset, harga eceran yang disesuaikan dengan kemampuan kantong UKM menjadi kunci layanan ini bisa diterima dengan baik oleh kalangan UKM. “Tinggal masalah sosialisasi dan edukasi ke masyarakat pebisnis,”tambahnya. Dengan delapan account management di seluruh cabang XL di Indonesia, Herwinto melihat ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan oleh operator dengan menggarap pasar yang selama ini ada namun terkesan dilupakan itu. “Kami memanfaatkan jaringan reseller yang besar tentu dengan insentif bisnis yang cukup lumayan yaitu keuntungan sekitar 10-12%,”ujar Herwinto.
Bagaimana iklan mobile kini menjadi lumbung baru bagi operator sejalan dengan riset Citrix yang melihat bahwa pada 2014 iklan mobile akan tumbuh dua kali lipat dibanding tahun lalu. Pemicunya, lanjut riset tersebut, adalah bagaimana iklan berbasis video makin populer setelah dikenalkan oleh pelbagai situs social media seperti Facebook hingga Twitter. Tapi, sebagai garda depan operator berada pada posisi sulit karena harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada konsumen. “Di sejumlah wilayah banyak konsumen mengeluh pada performa jaringan operator. Pengalaman menggunakan jaringan data operator harus menjadi langkah awal menggaet lebih banyak pengiklan. Operator harus selalu beradaptasi dengan kebutuhan data sehingga ujungnya bisa menangguk keuntungan,” kata Mark Davis, Direktur Senior Pemasaran Produk, Service Provider Platforms di Citrix seperti dikutip dari siaran pers lembaga tersebut.
Dari sisi pengusaha kecil, terobosan promosi mobile dapat bermanfaat dan langsung menjangkau personal. Asal bisa digunakan dengan baik, ponsel dapat menjadi promosi yang luar biasa misalnya dengan memberi diskon, memberi insentif via iklan mobile ataupun dapat melakukan program loyalitas pelanggan lainnya. Bisa diilustrasikan bila sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang kerajinan tangan ingin berpromosi melalui iklan mobile dan menyasar wisatawan yang berkunjung di dekat lokasi workshop maupun di bandara di kota itu, dengan mudah itu bisa dilakukan oleh operator selular.
Jadi kalau Anda singgah di kota tertentu dan ada tawaran ini-itu dari perusahaan UKM yang menawarkan pelbagai barang, tak ada salahnya Anda berbelanja menggunakan fasilitas diskon dari pesan di ponsel Anda.
Iklan di Ponsel, Bermanfaat?
Menilik perkembangan iklan di ponsel tentu tak dapat dipisahkan dengan bagaimana kondisi operator selular di Jepang. Pada medio 2003-2004 misalnya ada perusahaan aplikasi di Jepang yang menawarkan mengubah gambar wajah pengguna ponsel menjadi karikatur. Untuk proses karikatur itu, pengusaha Jepang itu menggandeng talenta grafis muda dari Bandung yang bekerja 24 jam sehari dalam tiga shift. Uniknya untuk mendapatkan layanan itu, pengguna ponsel di Jepang tak perlu merogoh kocek karena layanan itu ditempelkan di kemasan minuman, makanan ringan sehingga pengguna merasa itu adalah nilai tambah yang diberikan oleh produsen minuman atau makanan. Jadi, beban biaya pembuatan karikatur yang dibuat dengan standar waktu 6 menit di Bandung dan dikirimkan langsung ke Jepang itu sebenarnya dibiayai oleh produsen minuman atau makanan yang telah bekerja sama.
Konsep berbeda pernah pula diusung oleh Blyk, sebuah perusahaan yang ambisius membangun iklan mobile sebagai bisnis masa depan. Blyk yang didirikan di Inggris oleh beberapa veteran Nokia menggunakan skema bisnis yang memberikan moderasi ke pengguna ponsel untuk mau menerima atau tidak materi iklan yang disajikan di ponsel baik lewat SMS maupun MMS. Meski konsep ini berjalan pada awalnya tetapi dalam perjalanannya akhirnya Blyk almarhum dan belum sempat mencatatkan diri dengan iklan mobile sebagai jualannya.
Seiring waktu, ketika smartphone semakin populer dan pendapatan operator mulai stagnan dari sisi voice dan SMS serta merugi terus dari sektor data, iklan mobile menjadi salah satu bidikan operator agar tetap survive dalam pendapatan. Berbagai jurus ditebar seperti menggunakan LBA (LBS Advertising) maupun dengan cara-cara lain yang interaktif dan melibatkan pengguna ponsel. Operator menjadi ujung tombaknya karena di tangan operator lah semua data profiling pelanggan berada sehingga bisa dengan mudah mengeksploitasi apa yang diinginkan dan dibutuhkan pengguna ponsel. Tak hanya berapa jumlah uang yang dialokasikan untuk beli pulsa, kecenderungan lifestyle pengguna ponsel pun dapat terdeteksi dengan mudah.
Pernahkan Anda bayangkan pengusaha kerupuk udang di Surabaya dapat memasang iklan untuk calon pelanggan yang tinggal di luar kota Surabaya? Kalaupun ada, tentu mereka harus merogoh kantong dalam-dalam. Memang ada media outdoor yang sifatnya above the line yang dipasang di dekat stasiun ataupun bandara, tapi efeknya tidak akan signifikan kalau sekadar memasang tanpa membombardir dengan kampanye yang menusuk. Alhasil, beriklan untuk menggaet pelanggan di luar kota pun terasa musylkil karena ujung-ujungnya pasti mahal
Tapi kini keadaannya berbeda. Cukup membayar ratusan ribu hingga 3 juta-an saja pengusaha kerupuk tadi dapat menggaet calon pelanggan baru dari luar kota sekalipun. Caranya, cukup berlangganan layanan iklan untuk UKM di operator, iklan kerupuk udang itu dapat langsung mampir ke pengguna ponsel saat calon konsumen sedang berada di dekat bandara ataupun stasiun kereta. “Solusi ini untuk prospektif untuk kota-kota di Indonesia, terlebih dengan makin banyaknya industri pangan lokal yang berkembang,” kata Herwinto Chandra Susatyo, Head of M-Advertising XL. Tak perlu mengalokasikan dana yang besar, pengusaha UKM dapat langsung menyasar calon konsumen baru seperti wisatawan lokal ataupun pengusaha lokal yang sedang berkunjung di kota tersebut. “Klien kami bisa memilih target segmen yang diinginkan dan lokasinya. Bentuknya pun bermacam-macam seperti LBS Advertising berbasis SMS, MMS, hingga UMB,”tambah Herwinto.
Tak cuma pengusaha kerupuk saja, menurut Herwinto, pihaknya punya pengalaman menarik bagaimana pengusaha empek-empek di Surabaya memasarkan produknya melalui layanan iklan mobile untuk UKM tersebut. “Bahkan pengusaha townhouse di Surabaya juga memanfaatkan keberadaan iklan ini untuk menggaet calon pembeli potensial yang berada di wilayah Makassar dan Jakarta,” lanjut Herwin. Disinilah kemudian layanan advertising operator bisa dikustomisasi sesuai keinginan misalnya menyasar pengguna ponsel di daerah tertentu ataupun dengan target segmentasi pasar tertentu. Hasilnya terbilang efektif. Empek-empek dan kerupuk udang yang dipasarkan lewat mobile memperoleh efek viral marketing. Bahkan, menurut Herwinto, pengusaha kerupuk udang tadi kini mengalokasikan dana hingga ratusan juta rupiah untuk beriklan di mobile. Tak heran bila kemudian divisi mobile advertising yang dikomandoi Herwinto mampu meraup keuntungan berlipat pada 2014. “Kalau 2013 kami hanya bisa memperoleh sekitar 100 juta rupiah dari iklan mobile , semester tahun ini kami sudah di atas 1,2 milyar,”ujarnya semangat.
Penggunaan sumber daya operator yang dimanfaatkan secara maksimal menjadi kunci keberhasilan layanan ini. Mengaca kepada bagaimana tarif sachet mampu mengerek jumlah pelanggan sekaligus omset, harga eceran yang disesuaikan dengan kemampuan kantong UKM menjadi kunci layanan ini bisa diterima dengan baik oleh kalangan UKM. “Tinggal masalah sosialisasi dan edukasi ke masyarakat pebisnis,”tambahnya. Dengan delapan account management di seluruh cabang XL di Indonesia, Herwinto melihat ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan oleh operator dengan menggarap pasar yang selama ini ada namun terkesan dilupakan itu. “Kami memanfaatkan jaringan reseller yang besar tentu dengan insentif bisnis yang cukup lumayan yaitu keuntungan sekitar 10-12%,”ujar Herwinto.
Bagaimana iklan mobile kini menjadi lumbung baru bagi operator sejalan dengan riset Citrix yang melihat bahwa pada 2014 iklan mobile akan tumbuh dua kali lipat dibanding tahun lalu. Pemicunya, lanjut riset tersebut, adalah bagaimana iklan berbasis video makin populer setelah dikenalkan oleh pelbagai situs social media seperti Facebook hingga Twitter. Tapi, sebagai garda depan operator berada pada posisi sulit karena harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada konsumen. “Di sejumlah wilayah banyak konsumen mengeluh pada performa jaringan operator. Pengalaman menggunakan jaringan data operator harus menjadi langkah awal menggaet lebih banyak pengiklan. Operator harus selalu beradaptasi dengan kebutuhan data sehingga ujungnya bisa menangguk keuntungan,” kata Mark Davis, Direktur Senior Pemasaran Produk, Service Provider Platforms di Citrix seperti dikutip dari siaran pers lembaga tersebut.
Dari sisi pengusaha kecil, terobosan promosi mobile dapat bermanfaat dan langsung menjangkau personal. Asal bisa digunakan dengan baik, ponsel dapat menjadi promosi yang luar biasa misalnya dengan memberi diskon, memberi insentif via iklan mobile ataupun dapat melakukan program loyalitas pelanggan lainnya. Bisa diilustrasikan bila sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang kerajinan tangan ingin berpromosi melalui iklan mobile dan menyasar wisatawan yang berkunjung di dekat lokasi workshop maupun di bandara di kota itu, dengan mudah itu bisa dilakukan oleh operator selular.
Jadi kalau Anda singgah di kota tertentu dan ada tawaran ini-itu dari perusahaan UKM yang menawarkan pelbagai barang, tak ada salahnya Anda berbelanja menggunakan fasilitas diskon dari pesan di ponsel Anda.
Iklan di Ponsel, Bermanfaat?
Menilik perkembangan iklan di ponsel tentu tak dapat dipisahkan dengan bagaimana kondisi operator selular di Jepang. Pada medio 2003-2004 misalnya ada perusahaan aplikasi di Jepang yang menawarkan mengubah gambar wajah pengguna ponsel menjadi karikatur. Untuk proses karikatur itu, pengusaha Jepang itu menggandeng talenta grafis muda dari Bandung yang bekerja 24 jam sehari dalam tiga shift. Uniknya untuk mendapatkan layanan itu, pengguna ponsel di Jepang tak perlu merogoh kocek karena layanan itu ditempelkan di kemasan minuman, makanan ringan sehingga pengguna merasa itu adalah nilai tambah yang diberikan oleh produsen minuman atau makanan. Jadi, beban biaya pembuatan karikatur yang dibuat dengan standar waktu 6 menit di Bandung dan dikirimkan langsung ke Jepang itu sebenarnya dibiayai oleh produsen minuman atau makanan yang telah bekerja sama.
Konsep berbeda pernah pula diusung oleh Blyk, sebuah perusahaan yang ambisius membangun iklan mobile sebagai bisnis masa depan. Blyk yang didirikan di Inggris oleh beberapa veteran Nokia menggunakan skema bisnis yang memberikan moderasi ke pengguna ponsel untuk mau menerima atau tidak materi iklan yang disajikan di ponsel baik lewat SMS maupun MMS. Meski konsep ini berjalan pada awalnya tetapi dalam perjalanannya akhirnya Blyk almarhum dan belum sempat mencatatkan diri dengan iklan mobile sebagai jualannya.
Seiring waktu, ketika smartphone semakin populer dan pendapatan operator mulai stagnan dari sisi voice dan SMS serta merugi terus dari sektor data, iklan mobile menjadi salah satu bidikan operator agar tetap survive dalam pendapatan. Berbagai jurus ditebar seperti menggunakan LBA (LBS Advertising) maupun dengan cara-cara lain yang interaktif dan melibatkan pengguna ponsel. Operator menjadi ujung tombaknya karena di tangan operator lah semua data profiling pelanggan berada sehingga bisa dengan mudah mengeksploitasi apa yang diinginkan dan dibutuhkan pengguna ponsel. Tak hanya berapa jumlah uang yang dialokasikan untuk beli pulsa, kecenderungan lifestyle pengguna ponsel pun dapat terdeteksi dengan mudah.