Tak Melulu Gemar Gratisan
Operator masih punya peluang menggenjot pendapatan dari data asal tahu kebutuhan penggunanya. Konsumen mau membayar lebih asal mereka dapat ...
https://reviewkitabeta.blogspot.com/2014/09/tak-melulu-gemar-gratisan.html
Operator masih punya peluang menggenjot pendapatan dari data asal tahu kebutuhan penggunanya. Konsumen mau membayar lebih asal mereka dapat garansi mutu layanan.
Konsumen Indonesia memang gemar yang serba gratisan. Lihat saja wajah pengguna smartphone di Tanah Air. Betapa mereka senang dengan Google Play yang menyajikan banyak aplikasi gratisan menarik, karena tak perlu keluar uang tapi mendapat apa yang diinginkan, terpenuhi. Tak masalah bila kemudian aplikasi itu disusupi iklan, yang penting unsur gratisnya masih tetap ada.
Selain gratis, mayoritas konsumen selular di Tanah Air juga menggemari paket murah. Kalau dulu ada tarif telepon dan SMS harga sachet alias eceran, kini gantian paket data yang punya tawaran serupa. Penggemarnya pun banyak, terbukti operator terus gencar mengiklankan paket data harian yang harganya berkisar 2 ribu-an. Dari fakta itu, tentu perlu upaya lebih keras dan kreatif bagi operator yang ingin menawarkan produk-produknya ke masyarakat. Apakah mesti menawarkan sesuatu yang gratis ataupun sangat murah agar disambut antusiasme publik? Eh, tidak ternyata. Riset dari salah satu vendor jaringan selular berikut bisa menggambarkan bagaimana perilaku konsumen mobile data di Tanah Air.
Riset yang dirilis Ericsson ConsumerLab awal tahun ini dalam tajuk Connected Lifestyle mengungkap bahwa tidak selalu yang gratisan diingini oleh konsumen di Indonesia. Mereka melakukan studi di tiga negara yaitu Amerika Serikat, Brazil, dan Indonesia. Studi ini melalui tiga fase yaitu riset daring kualitatif dengan target 5 kelompok yaitu mahasiswa, profesional, dan orang tua; 4 focus group di tiga lokasi yaitu Chicago, Sao Paulo, dan Jakarta; serta interview daring ke seribu orang di tiga pasar tersebut. Sampel ini mewakili konsumen yang memilki smartphone dan akses internet di rumahnya dengan jumlah di Amerika Serikat 92 juta, Brazil 23 juta, dan Indonesia 27 juta pengguna. Jadi, datanya diklaim mewakili kurang lebih 150 juta pemilik smartphone.
Yang menarik, sejumlah konsumen mau membayar layanan digital berformat multimedia asalkan mereka sering mengakses dan mendapatkan manfaat dari keberadaan layanan tersebut. Ini artinya, kebutuhan khusus yang bernilai dalam kehidupan sehari-hari menjadi dasar mereka untuk mau mengkonsumsi layanan berbayar. Terutama bagi masyarakat Brazil dan Indonesia yang memiliki profil early adopter yang mengindikasikan masyarakatnya mau membayar untuk layanan yang mereka butuhkan (lihat tabel 1)

Lantas apa yang harus disediakan oleh operator dengan kebutuhan masyarakat seperti itu. Konektivitas menjadi kunci utama bagi pengadopsi teknologi seperti yang terjadi dengan masyarakat Indonesia. Lebih dari seperempat responden menyatakan bahwa jaminan konektivitas menjadi preferensi mereka selain layanan belanja yang dilengkapi dengan transaksi elektronik dari ponsel, termasuk dalam pengaturan finansial baik pengeluaran maupun transaksi (lihat tabel 2).
Meski begitu, semua layanan yang disediakan menjadi penting bagi konsumen, asal prioritas untuk jaminan konektivitas di jaringan data operator dapat terjamin. Kalau operator dapat melakukan hal itu, bukan tidak mungkin pundi-pundi pendapatan mereka akan melesat. Bukan lagi jamannya mobile data seperti GSM dulu yang diartikan geser sedikit mati…..
Konsumen Indonesia memang gemar yang serba gratisan. Lihat saja wajah pengguna smartphone di Tanah Air. Betapa mereka senang dengan Google Play yang menyajikan banyak aplikasi gratisan menarik, karena tak perlu keluar uang tapi mendapat apa yang diinginkan, terpenuhi. Tak masalah bila kemudian aplikasi itu disusupi iklan, yang penting unsur gratisnya masih tetap ada.
Selain gratis, mayoritas konsumen selular di Tanah Air juga menggemari paket murah. Kalau dulu ada tarif telepon dan SMS harga sachet alias eceran, kini gantian paket data yang punya tawaran serupa. Penggemarnya pun banyak, terbukti operator terus gencar mengiklankan paket data harian yang harganya berkisar 2 ribu-an. Dari fakta itu, tentu perlu upaya lebih keras dan kreatif bagi operator yang ingin menawarkan produk-produknya ke masyarakat. Apakah mesti menawarkan sesuatu yang gratis ataupun sangat murah agar disambut antusiasme publik? Eh, tidak ternyata. Riset dari salah satu vendor jaringan selular berikut bisa menggambarkan bagaimana perilaku konsumen mobile data di Tanah Air.
Riset yang dirilis Ericsson ConsumerLab awal tahun ini dalam tajuk Connected Lifestyle mengungkap bahwa tidak selalu yang gratisan diingini oleh konsumen di Indonesia. Mereka melakukan studi di tiga negara yaitu Amerika Serikat, Brazil, dan Indonesia. Studi ini melalui tiga fase yaitu riset daring kualitatif dengan target 5 kelompok yaitu mahasiswa, profesional, dan orang tua; 4 focus group di tiga lokasi yaitu Chicago, Sao Paulo, dan Jakarta; serta interview daring ke seribu orang di tiga pasar tersebut. Sampel ini mewakili konsumen yang memilki smartphone dan akses internet di rumahnya dengan jumlah di Amerika Serikat 92 juta, Brazil 23 juta, dan Indonesia 27 juta pengguna. Jadi, datanya diklaim mewakili kurang lebih 150 juta pemilik smartphone.
Yang menarik, sejumlah konsumen mau membayar layanan digital berformat multimedia asalkan mereka sering mengakses dan mendapatkan manfaat dari keberadaan layanan tersebut. Ini artinya, kebutuhan khusus yang bernilai dalam kehidupan sehari-hari menjadi dasar mereka untuk mau mengkonsumsi layanan berbayar. Terutama bagi masyarakat Brazil dan Indonesia yang memiliki profil early adopter yang mengindikasikan masyarakatnya mau membayar untuk layanan yang mereka butuhkan (lihat tabel 1)
Lantas apa yang harus disediakan oleh operator dengan kebutuhan masyarakat seperti itu. Konektivitas menjadi kunci utama bagi pengadopsi teknologi seperti yang terjadi dengan masyarakat Indonesia. Lebih dari seperempat responden menyatakan bahwa jaminan konektivitas menjadi preferensi mereka selain layanan belanja yang dilengkapi dengan transaksi elektronik dari ponsel, termasuk dalam pengaturan finansial baik pengeluaran maupun transaksi (lihat tabel 2).