Yang Cerdas Makin Murah
P onsel cerdas (smartphone) tak lagi berharga mahal. Vendor ponsel lokal mulai melirik lagi pangsa pasar smartphone kelas pemula yang jumlah...
https://reviewkitabeta.blogspot.com/2014/09/yang-cerdas-makin-murah.html
P
onsel cerdas (smartphone) tak lagi berharga mahal. Vendor ponsel lokal mulai melirik lagi pangsa pasar smartphone kelas pemula yang jumlahnya mayoritas di Indonesia.
Bagi pengguna ponsel, nama Nexian bukanlah nama asing. Bagaimana merek lokal ini menyeruak diantara persaingan vendor dunia di Tanah Air. Setelah diakuisisi oleh grup Spice dari Singapura dan mengusung nama baru S-Nexian, kini mereka hadir lagi dengan nama tetap Nexian. Uniknya mereka tetap konsisten menggarap pasar bawah dengan tawaran ponsel cerdas berharga murah. Bagaimana tidak dengan membawa uang tak lebih dari sejuta, Anda bisa dapatkan smartphone berbasis Android dengan OS terbaru.
“Kami tetap fokus untuk menggarap pasar ponsel murah yang begitu banyak peminatnya di Indonesia,” kata CEO Spice Global, Dilip Modi beberapa waktu lalu. Yang jelas jenis smartphone yang dipasarkan dengan harga terjangkau tersebut mayoritas menggunakan sistem operasi Android. Lantas, apakah kemudian langkah Nexian untuk comeback ke pasar ponsel Indonesia terbilang mudah? Tentu tidak, karena meskipun brand ponsel lokal sudah berguguran sejak dua tiga tahun lalu, tetap saja masih ada brand lokal yang konsisten bercokol menawarkan smartphone dengan harga bersaing. Sebut saja Evercoss –brand lanjutan dari Cross-, Advan, Mito, Pixcomm, hingga SpeedUp. Pendeknya, tak bakal mudah bersaing dengan merek-merek tersebut. Terlebih bila kemudian pemain langsung dari Tiongkok seperti Xiaomi juga akan berencana meringsek pasar Indonesia.
Persaingan merebut pasar smartphone kelas pemula itu disadari oleh semua vendor di Tanah Air. Beberapa vendor dunia juga merasakan hal yang sama harus memberi harga yang reasonable pada produk yang ingin menyasar banyak konsumen di Indonesia. Salah satu yang telah melakukan itu adalah BlackBerry yang baru merilis seri Z3 Jakarta yang banyak mengadopsi kebutuhan pengguna smartphone di Indonesia. Sementara vendor merek lokal lebih banyak bermain dengan memanfaatkan brand yang telah lama beredar sekaligus menawarkan harga produk yang kompetitif. Selain itu dari sisi produk yang nyaris semuanya adalah dari pabrikan Tiongkok- nilai jual yang lebih banyak diunggulkan adalah dari sisi marketing mulai dari menggunakan artist endorser hingga berani menyeponsori acara di televisi dengan blocking time yang tentu bukan murah harganya.
Tak cuma itu, menurut Tjandra Lianto , Marketing Director Advan pihaknya berani melakukan investasi dengan menjadi sponsor klub raksasa asal Catalan Barcelona yang punya banyak penggemar fanatik di Indonesia. “Nilai kontraknya bisa jutaan Euro dan kami harapkan ini dapat menjaring banyak peminat Barca untuk menggunakan produk-produk Advan,”ujarnya. Sebuah terobosan yang boleh dibilang sangat berani mengingat volume produk yang harus dapat terjual untuk menutupi biaya sponsor tersebut tentu tidak sedikit. Tapi dari sisi pemasaran, Advan berharap merek miliknya akan tetap langgeng dalam persaingan yang makin kompetitif. “Kami belum berencana untuk masuk ke pasar regional karena di pasar domestik saja peluangnya masih sangat besar,”ujarnya. Artinya, menyeponsori Barcelona pun adalah langkah untuk menggaet pasar lokal Indonesia karena bintang-bintang sepakbola dunia macam Neymar ataupun Messi bisa saja berkunjung ke Indonesia sebagai kewajiban kontraprestasi dari dukungan Advan tersebut. Di sinilah kemudian momentum untuk menciptakan hype agar merek Advan bisa dikenal lebih luas. Boleh jadi langkah untuk promosi menggunakan brand internasional itu sebagai langkah lanjutan dari Advan setelah juga berani mendukung acara pencarian bakat menyanyi yang diikuti tayangannya oleh jutaan pemirsa televisi di Indonesia.
Operator Berharap Berkah
Pertanyaan lain yang mengemuka ketika smartphone murah telah tersedia adalah bagaimana konsumen kemudian menggunakan smartphone itu untuk mengakses data yang disediakan operator. “Konsumen selular di Indonesia itu seperti piramida, didominasi oleh pengguna kalangan bawah sehingga pangsa pasar smartphone di kelas itu begitu besar,”ucap Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur XL beberapa waktu lalu. Ini tentu berkah bagi vendor lokal yang kini seolah mendapat oksigen tambahan untuk bernapas. Tapi bagi operator bukan berlaku senada karena banyak faktor yang mengharuskan mereka bisa ‘memaksa’ pengguna smartphone low end itu menggunakan layanan data operator.
Selain sosialisasi juga butuh dukungan edukasi yang terus menerus pada segmen masyarakat tersebut untuk menggunakan layanan data- terutama 3G- yang investasinya tentu tidak sedikit. Tentu mengecewakan bagi operator bila lantas pengguna smartphone pemula itu malah tak mengaktifkan data dan sekadar memanfaatkannya untuk voice dan SMS. Bukankah pelajaran pengguna BlackBerry yang tidak menggunakan layanan BIS-nya dapat berulang dengan kondisi smartphone kelas low-end tersebut? Perlu upaya sungguh-sungguh dari operator misalnya memberi insentif yang besar, kemudahan penggunaan, hingga harga yang kompetitif agar pengguna smartphone murah juga tidak sayang untuk ‘membuang’ uangnya pada layanan data yang disediakan operator.
Bila operator berhasil meyakinkan konsumen smartphone baru yang notabene juga punya ikatan kuat ke social media dan instant messaging agar dapat menggunakan layanan data operator. Kalau itu sukses dilakaukan bukan tidak mungkin layanan data operator akan laris manis dan bisa menyalip pendapatan dari sektor voice dan data lebih cepat dari 2017 seperti yang ada di operator selular Malaysia. Tetapi bila gagal dan konsumen lebih memilih menggunakan smartphone murah sekadar untuk SMS dan voice tentu operator bakal gigit jari. Kalaupun menggunakan data sekadar di atas platform 2G dan bukan 3G, boleh dibilang kampanye sosialisasi penggunaan data pun belum berhasil sepenuhnya.
Idealnya memang operator punya solusi jitu untuk memanfaatkan data sebagai ‘jalan’ untuk memperoleh pendapatan yang berlipat. Tetapi karena saat ini untuk data operator terjebak layaknya penyedia jasa internet belaka, tidak ada nilai tambah yang dapat diperoleh operator. Mereka mesti mencari solusi ideal apakah menggunakan aplikasi lokal yang diharapkan bisa hype di kalangan pengguna smartphone serta memudahkan operator menggaet pendapatan. Kisah sukses operator di Jepang dan Korea Selatan misalnya bisa menjadi cermin bagaimana ketika layanan data dapat didulang menjadi pendapatan yang besar bagi operator dari sisi trafik. Tidak seperti yang terjadi sekarang di Indonesia, bandwidth operator habis digunakan oleh pengguna untuk mengakses aplikasi dari luar negeri yang sulit dikenakan biaya di luar pemakaian internet.
Bagi konsumen persaingan yang ketat antara vendor lokal maupun global dalam memperebutkan pasar di Tanah Air tentu menguntungkan. Makin banyak pilihan ketika ingin menggunakan smartphone karena tidak sekadar bertumpu pada satu atau dua merek dengan harga yang menguras kantong. Juga menjadi pelajaran penting bagi vendor lokal saat mengadu untung kembali memperebutkan pasar ponsel di Tanah Air yang terkenal kejam dan sangat dinamis tersebut. Akankah smartphone murah akan tetap bertahan?
Bagi pengguna ponsel, nama Nexian bukanlah nama asing. Bagaimana merek lokal ini menyeruak diantara persaingan vendor dunia di Tanah Air. Setelah diakuisisi oleh grup Spice dari Singapura dan mengusung nama baru S-Nexian, kini mereka hadir lagi dengan nama tetap Nexian. Uniknya mereka tetap konsisten menggarap pasar bawah dengan tawaran ponsel cerdas berharga murah. Bagaimana tidak dengan membawa uang tak lebih dari sejuta, Anda bisa dapatkan smartphone berbasis Android dengan OS terbaru.
“Kami tetap fokus untuk menggarap pasar ponsel murah yang begitu banyak peminatnya di Indonesia,” kata CEO Spice Global, Dilip Modi beberapa waktu lalu. Yang jelas jenis smartphone yang dipasarkan dengan harga terjangkau tersebut mayoritas menggunakan sistem operasi Android. Lantas, apakah kemudian langkah Nexian untuk comeback ke pasar ponsel Indonesia terbilang mudah? Tentu tidak, karena meskipun brand ponsel lokal sudah berguguran sejak dua tiga tahun lalu, tetap saja masih ada brand lokal yang konsisten bercokol menawarkan smartphone dengan harga bersaing. Sebut saja Evercoss –brand lanjutan dari Cross-, Advan, Mito, Pixcomm, hingga SpeedUp. Pendeknya, tak bakal mudah bersaing dengan merek-merek tersebut. Terlebih bila kemudian pemain langsung dari Tiongkok seperti Xiaomi juga akan berencana meringsek pasar Indonesia.
Persaingan merebut pasar smartphone kelas pemula itu disadari oleh semua vendor di Tanah Air. Beberapa vendor dunia juga merasakan hal yang sama harus memberi harga yang reasonable pada produk yang ingin menyasar banyak konsumen di Indonesia. Salah satu yang telah melakukan itu adalah BlackBerry yang baru merilis seri Z3 Jakarta yang banyak mengadopsi kebutuhan pengguna smartphone di Indonesia. Sementara vendor merek lokal lebih banyak bermain dengan memanfaatkan brand yang telah lama beredar sekaligus menawarkan harga produk yang kompetitif. Selain itu dari sisi produk yang nyaris semuanya adalah dari pabrikan Tiongkok- nilai jual yang lebih banyak diunggulkan adalah dari sisi marketing mulai dari menggunakan artist endorser hingga berani menyeponsori acara di televisi dengan blocking time yang tentu bukan murah harganya.
Tak cuma itu, menurut Tjandra Lianto , Marketing Director Advan pihaknya berani melakukan investasi dengan menjadi sponsor klub raksasa asal Catalan Barcelona yang punya banyak penggemar fanatik di Indonesia. “Nilai kontraknya bisa jutaan Euro dan kami harapkan ini dapat menjaring banyak peminat Barca untuk menggunakan produk-produk Advan,”ujarnya. Sebuah terobosan yang boleh dibilang sangat berani mengingat volume produk yang harus dapat terjual untuk menutupi biaya sponsor tersebut tentu tidak sedikit. Tapi dari sisi pemasaran, Advan berharap merek miliknya akan tetap langgeng dalam persaingan yang makin kompetitif. “Kami belum berencana untuk masuk ke pasar regional karena di pasar domestik saja peluangnya masih sangat besar,”ujarnya. Artinya, menyeponsori Barcelona pun adalah langkah untuk menggaet pasar lokal Indonesia karena bintang-bintang sepakbola dunia macam Neymar ataupun Messi bisa saja berkunjung ke Indonesia sebagai kewajiban kontraprestasi dari dukungan Advan tersebut. Di sinilah kemudian momentum untuk menciptakan hype agar merek Advan bisa dikenal lebih luas. Boleh jadi langkah untuk promosi menggunakan brand internasional itu sebagai langkah lanjutan dari Advan setelah juga berani mendukung acara pencarian bakat menyanyi yang diikuti tayangannya oleh jutaan pemirsa televisi di Indonesia.
Operator Berharap Berkah
Pertanyaan lain yang mengemuka ketika smartphone murah telah tersedia adalah bagaimana konsumen kemudian menggunakan smartphone itu untuk mengakses data yang disediakan operator. “Konsumen selular di Indonesia itu seperti piramida, didominasi oleh pengguna kalangan bawah sehingga pangsa pasar smartphone di kelas itu begitu besar,”ucap Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur XL beberapa waktu lalu. Ini tentu berkah bagi vendor lokal yang kini seolah mendapat oksigen tambahan untuk bernapas. Tapi bagi operator bukan berlaku senada karena banyak faktor yang mengharuskan mereka bisa ‘memaksa’ pengguna smartphone low end itu menggunakan layanan data operator.
Selain sosialisasi juga butuh dukungan edukasi yang terus menerus pada segmen masyarakat tersebut untuk menggunakan layanan data- terutama 3G- yang investasinya tentu tidak sedikit. Tentu mengecewakan bagi operator bila lantas pengguna smartphone pemula itu malah tak mengaktifkan data dan sekadar memanfaatkannya untuk voice dan SMS. Bukankah pelajaran pengguna BlackBerry yang tidak menggunakan layanan BIS-nya dapat berulang dengan kondisi smartphone kelas low-end tersebut? Perlu upaya sungguh-sungguh dari operator misalnya memberi insentif yang besar, kemudahan penggunaan, hingga harga yang kompetitif agar pengguna smartphone murah juga tidak sayang untuk ‘membuang’ uangnya pada layanan data yang disediakan operator.
Bila operator berhasil meyakinkan konsumen smartphone baru yang notabene juga punya ikatan kuat ke social media dan instant messaging agar dapat menggunakan layanan data operator. Kalau itu sukses dilakaukan bukan tidak mungkin layanan data operator akan laris manis dan bisa menyalip pendapatan dari sektor voice dan data lebih cepat dari 2017 seperti yang ada di operator selular Malaysia. Tetapi bila gagal dan konsumen lebih memilih menggunakan smartphone murah sekadar untuk SMS dan voice tentu operator bakal gigit jari. Kalaupun menggunakan data sekadar di atas platform 2G dan bukan 3G, boleh dibilang kampanye sosialisasi penggunaan data pun belum berhasil sepenuhnya.
Idealnya memang operator punya solusi jitu untuk memanfaatkan data sebagai ‘jalan’ untuk memperoleh pendapatan yang berlipat. Tetapi karena saat ini untuk data operator terjebak layaknya penyedia jasa internet belaka, tidak ada nilai tambah yang dapat diperoleh operator. Mereka mesti mencari solusi ideal apakah menggunakan aplikasi lokal yang diharapkan bisa hype di kalangan pengguna smartphone serta memudahkan operator menggaet pendapatan. Kisah sukses operator di Jepang dan Korea Selatan misalnya bisa menjadi cermin bagaimana ketika layanan data dapat didulang menjadi pendapatan yang besar bagi operator dari sisi trafik. Tidak seperti yang terjadi sekarang di Indonesia, bandwidth operator habis digunakan oleh pengguna untuk mengakses aplikasi dari luar negeri yang sulit dikenakan biaya di luar pemakaian internet.
Bagi konsumen persaingan yang ketat antara vendor lokal maupun global dalam memperebutkan pasar di Tanah Air tentu menguntungkan. Makin banyak pilihan ketika ingin menggunakan smartphone karena tidak sekadar bertumpu pada satu atau dua merek dengan harga yang menguras kantong. Juga menjadi pelajaran penting bagi vendor lokal saat mengadu untung kembali memperebutkan pasar ponsel di Tanah Air yang terkenal kejam dan sangat dinamis tersebut. Akankah smartphone murah akan tetap bertahan?