Siap (Tak) Siap Gunakan 4G

Tuntutan kebutuhan pada jaringan data mobile membuat operator ramai-ramai melirik layanan LTE (4G). Konsumen butuh layanan data yang stabil ...

Tuntutan kebutuhan pada jaringan data mobile membuat operator ramai-ramai melirik layanan LTE (4G). Konsumen butuh layanan data yang stabil dan terjangkau.

Siang itu terik matahari seakan membakar kulit. Di pojokan lobi sebuah universitas swasta di daerah Tebet, ruangan ber-AC itu tak memancarkan kesejukan. Malah, aliran hawa panas mengalir masuk ke tempat tersebut. “Ya, susah amat nih bisa dapatin akses internet. Pakai WiFi ndut-ndutan, pakai modem seluler sama saja,” kata Davit Donavan (23 th) kesal. Sambil mengibaskan tangan tanda kegerahan, ia makin bete saja tak bisa tersambung ke internet. “Mana mau cari bahan untuk bahan diskusi di kelas nanti,” katanya.

Pengalaman seperti yang dialami Davit itu rasanya juga banyak dialami pengguna internet di Tanah Air. Ketika menggunakan modem internet keluaran operator –baik yang berbasis GSM ataupun CDMA- yang ada mereka kecewa. “Klaimnya yang bisa sampai Mbps tak pernah tercapai, apalagi kalau dipakai di tempat-tempat tertentu, bisa bengong doang,” ungkap Davit tersenyum. Baginya, kebutuhan akses mobile internet sebenarnya sederhana saja: mudah terkoneksi, stabil, dan kecepatan yang fair tak jauh dari janji yang diberikan. Tapi kenyataan berkata lain, ketika ia menggunakan layanan internet dari satu operator dan didukung oleh oleh pendapat teman-temannya bahwa kecepatan aksesnya kencang, tapi ketika dia ikut berlangganan tak berapa lama jaringan pun terkulai. “Paling cepatnya hanya beberapa minggu saja,” tambahnya.

Pengalaman itu tak hanya dirasakan Davit. Menurut Widiastuti (25 th), seorang karyawati sekaligus mahasiswa yang tinggal di Johar Baru Jakarta Pusat, pengalamannya pun serupa. “Waktu pertama-pertama menggunakan memang terasa kencangnya, tapi tak berapa lama penyakit lama kambuh. Susah akses dan lelet minta ampun,” katanya. Meskipun operator mengklaim menggunakan jaringan 3G (third generation) dan punya klaim kecepatan tinggi dengan nada berkelakar Widiastuti mengatakan singkatan 3G bukan generasi ketiga tetapi “3G” alias gak gerak-gerak. “Jadi kadang terkoneksi ke jaringan data operator, tetapi nggak dapat kecepatan yang memadai. Buka satu halaman website saja susah sekali,”tambahnya. Padahal ia butuh terkoneksi ke internet untuk melihat video streaming hingga mencari bahan penunjang kuliah.

[caption id="attachment_8310" align="aligncenter" width="200"]                                                                     Davit Danovan Davit Danovan[/caption]

[caption id="attachment_8311" align="alignright" width="300"]Widiastuti Widiastuti[/caption]

Fenomena LTE
Dua pengalaman tadi menggambarkan betapa infrastruktur yang memadai bagi konsumen mobile data di Tanah Air masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi operator. Mereka harus berjibaku mempopulerkan 3G ke masyarakat dengan harapan konsumsi akan naik. Tapi kenyataannya, utilisasi jaringan 3G juga belum memenuhi harapan alias masih belum menutup biaya investasi. Berbagi investasi mesti ditanam operator dalam jaringan mobile data 3G seperti biaya pemakaian frekuensi hingga gelaran jaringan. Sementara di sisi konsumen sudah terbiasa dengan tarif data murah sehingga amat sulit bagi operator untuk mengatrol harga agar tak berselisih terlalu banyak dengan investasi. Disinilah kemudian layanan 3G menjadi menyebalkan, konsumen sudah kadung membayar, tapi layanan mobile data tak memuaskan. Di sana sini jaringan 3G bolong, kalaupun konsumen mendapati layanan data, itupun turun ke jaringan 2G yang pasti secara kecepatan kurang dari 3G.

Padahal bila menilik teknologi, kini arahnya sudah berkembang ke LTE (long term evolution) atau 4G yang memungkinkan kecepatan data dapat dipacu lebih cepat daripada 3G. Operator mau tak mau harus mengadopsi teknologi itu di masa depan kalau tidak ingin dilibas oleh persaingan. Hanya saja, ketika operator selular sudah ramai-ramai melakukan ujicoba LTE sejak 2011 hingga saat ini, regulator dalam hal ini pemerintah belum memutuskan penawaran frekuensi 4G, termasuk biaya pemakaian frekuensi maupun pada band berapa jaringan 4G LTE akan digelar.

Menariknya, ketika pemerintah sudah selesai melakukan tender BWA (Broadband Wireless Access) di frekuensi 2.3 GHz dengan banyak pemenang atau operator di berbagai wilayah, teknologi yang diunggulkan yaitu WiMax seperti tertelan angin begitu saja. Persyaratan TKDN (tingkat kandungan dalam negeri) 30-40% pada perangkat sulit dilaksanakan. Secara teknologi pengembangan WiMax juga tidak segencar mobile data di jalur selular yang rata-rata punya ekosistem perangkat pendukung yang lebih matang. Baru kemudian ketika Kementerian Kominfo mengeluarkan PM No.19/PER/M.KOMINFO/09/2011 tentang netral teknologi, operator pemenang bisa melirik teknologi lain diluar WiMax asalkan tetap mengacu kepada akses mobile broadband.

Ketika publik dikejutkan pada November 2013 ketika Internux sebagai salah satu pemenang tender BWA meluncurkan layanan 4G LTE dengan bandrol merek BOLT! yang diklaim menawarkan kecepatan akses hingga 72 Mbps. Menggunakan basis teknologi TDD-LTE (time division duplex-LTE) di frekuensi 2,3 GHz dengan lebar pita 15 MHz sama seperti yang dikembangkan oleh operator mobile data di Tiongkok. Bagi operator pengguna teknologi ini, dukungan ekosistem tentu lebih mudah karena perangkat seperti modem telah digunakan di Tiongkok dan negara lain yang menggunakan band frekuensi yang sama. Hanya secara investasi, operator BWA mesti membangun BTS lebih luas untuk memenuhi ekspekstasi pelanggan akan kecepatan data yang tinggi dan targetnya pada 2015 akan berdiri 3500 BTS di Jabodetabek. Dengan celah pengguna mobile data yang memendam kecewa dengan apa yang disediakan operator, tak perlu waktu lama bagi BOLT! mendapat perhatian konsumen. Sekarang, jumlah penggunanya pun naik dengan cepat dan tembus di atas sejuta pengguna. “Saya coba di rumah saya di Sunter, sampai sekarang masih stabil kencang,” kata Davit yang mencoba BOLT! sejak enam bulan lalu ini.

Tentu ini warning bagi operator selular karena celah pasar dimanfaatkan betul oleh pendatang baru. Meski sudah punya 3G, notabene layanan ini masih ndut-ndutan jauh dari kata stabil. Keberadaan LTE tentu menjadi pertanyaan ketika 3G saja operator selular saat ini masih tekor, mengapa kemudian operator harus bertaruh kembali ke 4G. Operator mesti menghitung dengan cermat kebutuhan akan pola komunikasi data di Tanah Air sekaligus berupaya bisa mendapatkan untung dari pertaruhan investasi tersebut. “China Mobile bisa jadi contoh bagaimana mereka secara agresif menawarkan 4G LTE dengan membangun ekosistem peranti murah bagi konsumen yang sensitif terhadap harga,” ujar Phil Kendall, Executive Director Wireless Operator Strategies. Jadi, tambah Kendall, 4G memang menjanjikan kecepatan lebih baik tetapi strategi yang tepat harus dirumuskan sesuai dengan keadaan operator dan konsumen yang berada di tempat operator tersebut.

Nah, kendala ini akan jadi tambah memusingkan kalau regulasi memutuskan band frekuensi 4G LTE yang akan digunakan apakah di 2,3 GHz, 1,8 GHz, atau di 700 MHz. Basis teknologi yang dipakai apakah TDD atau FDD, semuanya akan berimplikasi pada ekosistem pendukung seperti perangkat ke konsumen dan sebagainya. Tapi bersyukurlah bagi konsumen, dengan model kompetisi yang seperti ini, kita akan memperoleh banyak pilihan berinternet menggunakan layanan mobile data yang disediakan operator. Hanya saja, ketika 4G benar-benar dikomersialkan oleh operator selular, jangan pernah 4G jadi anekdot lagi sebagai gak gerak-gerak gitu. Kalau itu terjadi, siap-siap saja mengakses internet di siang hari yang panas bisa bikin tambah keringatan karena kesal. Sudah 4G tapi tak kemana-mana.

[caption id="attachment_8312" align="alignnone" width="300"]pangsa pasar LTE dunia Pangsa Pasar LTE Dunia (total pengguna : 280 juta) sumber : diolah[/caption]

Related

Telco 6716438820035924547

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item