Kreativitas : Kunci Pengembang Aplikasi

Motivasi tertinggi pengembang aplikasi ternyata bukan uang, tetapi kreativitas. Akankah muncul lagi aplikasi hype yang digemari orang seluru...

Motivasi tertinggi pengembang aplikasi ternyata bukan uang, tetapi kreativitas. Akankah muncul lagi aplikasi hype yang digemari orang seluruh dunia?

Game ini sederhana untuk dimainkan. Alih-alih menampilkan grafis menawan, game dengan karakter utama seekor burung itu malah hadir dengan gaya retro 2D seperti tampilan game portable generasi awal. Tapi, alamak, penggemarnya puluhan juta orang gara-gara penasaran menerbangkan burung aneh itu melewati pipa rintangan.


Itulah game Flappy Bird yang bikin heboh beberapa waktu lalu. Adalah Nguyen Ha Dong atau Dong Nguyen, pengembang game independen asal Vietnam yang membuat aplikasi nyebelin ini. Uniknya, sejak dirilis 24 Mei 2013, game ini pelan tapi pasti menjadi game favorit di toko aplikasi AppStore dan Google Play. Bahkan situs The Verge memperkirakan, pengembang game ini bisa memperoleh penghasilan sekitar 50 ribu USD per hari alias 600 juta rupiah. Jelas sebuah angka yang besar karena duit yang didapatkan  hanya dari pemasangan iklan di game atau dikenal sebagai in-game advertising. Bisa dibayangkan berapa uang yang diperoleh bila kemudian game ini jadi hype nyaris oleh semua pengguna smartphone di kolong jagat ini. Tapi, anehnya 8 Februari lalu Nguyen mengumumkan di Twitter bahwa game itu akan ditarik segera dari Apple AppStore dan Google Play. Meski banyak yang berspekulasi kalau game ini terlalu banyak kemiripan dengan Super Mario Bros atau game lain untuk karakter burung, sehingga pengembang menghindari tuntutan hukum atas paten, dengan tegas Nguyen membantahnya. “Tidak ada masalah legalitas,” ungkapnya dalam cuitannya. Jawaban Nguyen lebih menarik muncul ketika ia menerima wawancara khusus dengan Forbes yang menyebutkan bahwa adiktifnya game buatannya adalah biang yang membuat ia harus menarik game tersebut dari toko aplikasi. “Game ini didesain untuk dimainkan dalam beberapa menit saja saat santai. Kemudian tiba-tiba menjadi produk adiktif, ini jadi masalah buat saya. Cara menyelesaikannya ya saya tarik game ini dari peredaran selamanya,” ujarnya simpel. Nguyen juga mengaku, jam tidurnya menjadi terganggu gara-gara game buatannya jadi begitu heboh.

Yang menarik, dalam konteks bisnis yang serba kapital langkah Nguyen itu terbilang aneh.Tentu kita ingat bagaimana Rovio dengan Angry Birds-nya melakukan banyak manuver demi meraup sebanyak-banyaknya pendapatan ketika game-nya sedang ramai dibicarakan. Mulai dari membuat berbagai sekuel yang sesuai musim, hingga dibuat versi film kartunnya. Tapi, apa yang dilakukan pengembang Flappy Bird berbeda 180 derajat. Nguyen merasa tuntutan kreativitasnya telah terpenuhi ketika game buatannya ramai digunakan dan ia merasa sudah selesai dengan ‘tugas’ kreativitas tersebut. Tidak peduli berapa potensi US dollar yang ia buang. Bukti bahwa game miliknya punya potensi menjulang yaitu setelah game itu ditarik, sejumlah orang di situs seperti e-Bay menawarkan smartphone seharga USD 900 dengan iming-iming pre-installed game Flappy Bird di dalamnya. Ajaib, bukan?

Dari kacamata pengembang, apayang dilakukan Nguyen boleh jadi ada sebabnya. Kalau ia mengaku hanya iseng-iseng di sela waktu kerjanya mengerjakan proyek pribadinya tersebut, sejak awal ia memang memandang game itu lebih untuk memuaskan hasrat kreativitasnya ketimbang komersial. Ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh developereconomics.com yang menyebut bahwa motivasi tertinggi dari seorang pengembang saat berkarya adalah kreativitas atau perasaan atas pencapaian diri (self achievement). Baru disusul oleh kesenangan dan uang malah menjadi urutan buncit dari faktor apa saja yang memengaruhi pengembang dalam membuat karya.

developerstabel1Konteks Indonesia

Bagaimana dengan di Indonesia yang punya banyak kemiripan dengan Vietnam negeri asal Nguyen? Saat ini bermunculan pengembang-pengembang baru yang muncul sebagai pengembang independen maupun perusahaan.Tapi, khusus untuk game, memang pengembangnya terbilang tidak terlalu banyak dan masih mengandalkan ‘kegilaan’ pengembang sendiri pada game.Tengok saja NightSpade ataupun Agate yang bermarkas di Bandung. Bagaimana mereka membangun perusahaan pembuat game dengan idealisme tinggi karena sejak kecil memang sudah tergila-gila dengan game. Sebagai lulusan ITB, orang-orang di balik NightSpade dan Agate tak terlalu tertarik bekerja kantoran seperti teman-temannya yang rata-rata direkrut oleh perusahaan-perusahaan multinasional.Mereka memilih jalan sunyi sembari berharap bisa merintis bisnis yang notabene sangat mengandalkan kreativitas dan passion. Soal talenta muda pengembang yang kreatif, sebenarnya Indonesia adalah salah satu tempatnya. Berbagai kota yang kerap dijuluki kota kreatif, talenta muda itu tak pernah kering. Kalau untuk pembuatan game, illustrator, desainer, hingga pemrogram pun tersedia melimpah.Begitu pula pencipta game story yang terilhami oleh lingkungan lokal maupun global dengan gampang dipindahkan ke layar ponsel.Mungkin belum ketemu hype-nya saja kalau hingga kini belum ada satu aplikasi yang benar-benar membuat heboh seantero bumi.

Pertanyaannya adalah sebenarnya ketika memutuskan diri menjadi pengembang aplikasi baik berupa game atau bukan, apakah itu menjanjikan layaknya profesional lainnya? Studi developereconomics.com menghitung rerata penghasilan yang diperoleh developer dalam sebulan bisa dalam hitungan ribuan dollar.Penghasilan pengembang terbesar masih didominasi melalui kanal AppStore Apple.Sedangkan model revenue yang paling popular dalam menghasilkan uang adalah melalui metode pay per download dan in-app purchase.Sementara In-App Advertising atau iklan di aplikasi berada di posisi kedua.Bukan sesuatu yang mengherankan bila dengan model pendapatan seperti ini pengembang baru di Indonesia bisa mendapatkan puluhan hingga ratusan juta rupiah hanya dari satu aplikasi yang dipasarkan di toko aplikasi.

[caption id="attachment_113" align="aligncenter" width="448"]sumber : developereconomics.com sumber : developereconomics.com[/caption]

Alhasil, model keberhasilan yang ditunjukkan Flappy Bird sejatinya menunjukkan karakter pengguna aplikasi smartphone yang unik dan sulit-sulit gampang untuk ditaklukkan. Buktinya seperti Flappy Bird. Sekalipun tampilannya katrok tapi kalau itu bikin adiktif, ternyata disambut heboh luar biasa.  Ketika game itu heboh, pundi-pundi pembuatnya pun segera bertambah cepat.

Jadi, ingin bersiap-siap  seperti Nguyen?

Related

Pengembang 5913252251918945700

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item