Belajar dari PewDiePie

Banyak yang setuju bila nanti layanan berbasis data yang akan marak adalah video. Youtube ataupun kanal-kanal video lain memang telah membuk...

Banyak yang setuju bila nanti layanan berbasis data yang akan marak adalah video. Youtube ataupun kanal-kanal video lain memang telah membuktikan hal itu. Tapi, pernahkan Anda mendengar nama PewDiePie? Bila belum, Anda mesti melirik kanal YouTube. Karena di tangan anak muda berusia 25 tahun asal Swedia yang berkuliah di Inggris yang bernama asli Felix Arvid Ulf Kjellberg itu, PewDiePier berhasil menggaet 27 juta pengikut di YouTube. Luar biasa, bukan?

Beberapa media bisnis dunia seperti Wall Street Journal dan Forbes memperkirakan, setahun pemuda yang lebih suka drop out dari Universitas Teknologi Chalmers itu berhasil mengumpulkan pendapatan sekitar USD 4 juta. Atau kalau dalam kalkulasi rupiah nyaris ia bisa mengumpulkan duit  50 milyar atau sebulan bisa menghasilkan sekitar Rp.4 milyar hanya dari iklan. PewDiePie fokus pada siaran video yang membahas game tertentu dengan pendekatan yang unik dan dapat diterima pasar penggemar game dari seluruh dunia. Kisah PewDiePie yang fenomenal inilah yang diangkat oleh Ed Thesiger, CEO GrupM yang bergerak di bidang brand communication saat acara Dig In 2014 di Jakarta Jumat (31/10/14) lalu.

“Kuncinya keberhasilannya ada empat yaitu culture insight, target yang tajam, konten yang fokus dan konsisten, serta semua serba diukur,”ungkapnya. Artinya, di dunia mobile bila keempat hal tersebut dapat dilakukan kesuksesan bisa dirasakan siapa saja. Seperti yang dilakukan Felix yang menjelma menjadi brand PewPieDie, ia dengan tangkas membentuk tim kecil dengan antusiasme sama dengan menggarap pangsa penggemar game dari seluruh dunia. Alhasil dari pendapatan kotor nyaris 50 milyar rupiah per tahun itu, investasi yang harus dikembalikan tidak terlalu besar karena ini adalah karya dengan segala daya kreativitas. Dengan empat kunci tersebut, PewDiePie hanya dalam waktu empat tahun berhasil mengumpulkan jutaan pengunjung yang akhirnya juga memperbesar pundi-pundinya dari iklan. "Keempat faktor itu juga bisa memicu keberhasilan bisnis di mobile termasuk di sini," kata Ed.

Tentu, keberhasilan PewDiePie itu bukan tanpa mimpi besar. Ketika ia memutuskan pindah ke Inggris karena ingin mendapatkan akses internet yang lebih kencang dari negara asalnya, ia ternyata juga menyimpan bakat bisnis luar biasa dan mencium ada pasar niche yang tidak digarap orang lain. Kejelian ini  mungkin menetes dari darah ibundanya, Johanna Kjellberg yang pernah dinobatkan sebagai CIO of The Year 2010 di Swedia.

Related

PewDiePie 711614652389005027

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item