M-Money di Indonesia, Prospektif?
Semakin populernya smartphone memicu semakin banyaknya orang yang ingin bisa melakukan banyak hal dari genggamannya. Tak sekadar bisa dipaka...
https://reviewkitabeta.blogspot.com/2014/09/m-money-di-indonesia-prospektif.html
Semakin populernya smartphone memicu semakin banyaknya orang yang ingin bisa melakukan banyak hal dari genggamannya. Tak sekadar bisa dipakai akses internet atau mengunduh aplikasi pilihan, smartphone harus juga bisa menjadi sarana pembayaran. Ya, smartphone akan menjadi pemicu munculnya mobile money di seluruh dunia, tak kecuali di Indonesia.
Bila beberapa negara telah matang menerapkan mobile money seperti di Jepang dengan FeLiCa atau Korea dan beberapa negara Skandinavia, namun popularitas m-money tak kunjung mencuat. Meskipun ekosistem sudah dibangun, tetap saja belum bisa mendongkrak penggunaan m-money secara meluas. Studi dari Bain and Co mengukuhkan hal tersebut. Dalam penelitian terhadap 25 ribu konsumen di Amerika Serikat dan Eropa Barat ditemukan banyak yang sudah siap menggunakan uang virtual dari ponsel, dan sebagian lainnya telah menggunakan untuk pembayaran. Sementara untuk berbelanja di toko (in-store mobile payment) relatif masih kecil hanya 3-7% konsumen yang menggunakannya untuk membeli kopi, buku, atau barang fisik lain di toko. Tapi angka itu tumbuh cepat yaitu hampir dua kali yang dilakukan pada tahun lalu. 16-27% responden mengatakan akan mencoba layanan pembayaran tergantung dari mana asal negara mereka. (lihat tabel)

Hambatan terbesar dari penerapan m-money adalah kebiasaan membayar (habit of payment) yang cukup sulit diubah. Konsumen merasa bahwa alat pembayaran saat ini sudah cukup buat mereka, meskipun nantinya mereka akan juga mengadopsi sistem baru. Faktor ini dapat dikatakan bersifat global, meskipun di beberapa negara ada juga cerita sukses menerapkan mobile money seperti yang terjadi di beberapa negara Afrika. Konsumen di Afrika misalnya tak perlu menjadi nasabah bank karena ponsel pun sudah bisa mewakili mereka dalam berbagai transaksi keuangan. Aneh, bukan?
Harapan Apple Pay
Banyak kalangan menyebut keberhasilan sebuah sistem keuangan melibatkan porsi banyak pihak. Dari sisi regulasi perlu ada dukungan dari pemerintah dengan mengeluarkan beleid yang mendukung penerapan masyarakat non-tunai (cashless society). Dari sisi ini, regulasi dari Bank Indonesia sudah jelas mendukung penerapan mobile money dalam skala luas. Tapi pelibatan berbagai pihak seperti merchant, penyedia prosessor payment, bank yang mengeluarkan kartu, operator, pembuat ponsel serta penyedia mobile wallet menjadi kunci penting keberhasilan penerapan metode transaksi virtual ini. Coba dibayangkan kalau satu pihak tidak siap, misalnya merchant, ketika konsumen hanya membawa uang dalam bentuk virtual dan mau tak mau mesti membayar sesuatu tapi merchant tidak siap, sia-sia belaka mobile money diterapkan.
Pada konteks itu, kehadiran Apple Pay diyakini akan mendongkrak mobile money dalam skala luas. Apple sebagai merek global dengan beragam produk langsung melakukan kerjasama dengan penerbit kartu kredit seperti MasterCard, Visa, dan American Express untuk memudahkan pembayaran virtual ke depan. Tak seperti Google yang sulit mengontrol produknya, Apple dapat memastikan produknya mendukung sistem pembayaran ini. Terlebih bila di Amerika Serikat, 40% pasar smartphone dikuasai Apple. Juga dengan lebih dari 800 juta orang pemegang akun iTunes yang selama ini percaya dengan model pembayaran yang digagas oleh Apple. Dengan bisnis sekitar USD 20 milyar setahun, bisnis Apple dari sektor non-hardware ini tentu pasar yang besar. Dari sisi waktu, kemunculan Apple Pay juga terlihat tepat ketika smartphone sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat modern.
Soal keamanan transaksi yang biasanya jadi keluhan sudah diantisipasi oleh Apple. Mereka menggunakan NFC yang sudah ada di iPhone 6 yang memungkinkan pembayar tanpa kontak melalui kartu kredit atau debit yang tersimpan di Secure Element yaitu sebuah chipset khusus di dalam ponsel. Tak cuma itu, Apple mengkombinasikan dengan aplikasi Passbook serta TouchID untuk autentikasi lewat sidik jari pengguna. Kunci dari penggunaan ini adalah data diletakkan di tempat khusus dan bukan server Apple. Apple menggunakan kode keamanan dinamis untuk memvalidasi semua transaksi ketika Device Account Number dikeluarkan, lalu dienkripsi dan tersimpan aman di Secure Element. Transaksi akan diotorasi dengan sebuah nomor unik atau token dari nomor yang tersimpan di Secure Element sebagai kode unik setiap bertransaksi. Mirip seperti menggunakan token untuk transaksi melalui internet banking.
“Ini langkah besar, ketika Apple menggunakan NFC akan kita lihat momentum untuk pembayaran digital dan layanan non-sentuh lainnya,” kata Steve Perry, Chief Digital Officer Visa Eropa. “Apple dikenal memiliki kekuatan dalam memanjakan konsumennya dan kami harap dukungan ke NFC akan jadi tonggak adopsi oleh konsumen di seluruh dunia,” tambahnya.
Bagaimana Indonesia?
Merujuk pada riset mutakhir yang dilakukan Ericsson Consumer Lab menunjukkan 54% responden di Indonesia telah menggunakan layanan transfer uang (mengirimkan atau menerima uang). Angka itu termasuk tinggi dibanding Vietnam dengan 34% dan Bangladesh 34%. Pada saat yang sama, ketertarikan dan kesadaran warga Bangladesh pada layanan transfer uang adalah 100% karena popularitas bKash sebagai layanan transfer uang di negara tersebut. Sedangkan di Indonesia yang menyatakan tertarik sekitar 49% dan di Vietnam 35%.
Upaya lebih menarik datang dari BlackBerry. Sadar dengan pengguna layanan chat BBM yang bejibun di Indonesia, mereka membuat eksplorasi yaitu BBM Money sejak awal tahun lalu. Layanan ini semacam mobile wallet yang memungkinkan pengguna BBM mengirimkan uang ke kontak BBM, melakukan top up pulsa, dan membayar tagihan. Layanan ini dibangun oleh Monetise Indonesia dan Bank Permata menggunakan passcode dan keamanan level perbankan yang dipersyaratkan. Setidaknya ada sekitar 100 ribu pengguna yang memanfaatkan BBM Money hingga saat ini. “Kami ingin melihat pasar dan mendapatkan umpan balik dari pengguna. Kami juga belajar sejumlah layanan yang akan menarik dan melihat bahwa masyarakat Indonesia siap dengan mobile payment,” kata Matthew Talbot, Senior Vice President Emerging Solution BlackBerry saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.
Indonesia, tambah Matthew, merupakan pasar yang sempurna bagi BBM Money. Menurutnya ada empat alasan yaitu pertama bahwa ada banyak pelanggan BBM di Tanah Air, bahkan pengguna BBM terbesar dunia ada di Indonesia. Kedua, BlackBerry punya brand kuat terutama reputasi soal keamanan dan privacy sehingga menjadi modal kuat dalam layanan keuangan. Ketiga, karena popularitasnya tersebut maka banyak brand maupun retailers ikut serta dalam layanan BBM Channel untuk terkoneksi ke pelanggan. Nama-nama brand seperti Coca-Cola hingga Garuda Indonesia memanfaatkan kanal ini untuk menyapa pengguna BBM. Keempat, Indonesia masih termasuk masyarakat berbasis uang tunai. Sesuai dengan laporan MasterCard terbaru hanya 31% konsumen yang sudah cashless, 20% orang yang punya rekening, dan hanya 11% yang memiliki kartu debit. Jadi ada ruang terbuka untuk infrastruktur pembayaran tumbuh. Terlebih lagi sebagai negara dengan populasi keempat terbesar di dunia dan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, layaklah bila mobile payment siap diterapkan di Indonesia.
Tak berlebihan bila pada 18 September 2014 lalu, BlackBerry mengumumkan akan meningkatkan kemampuan mobile payment untuk pengguna BBM. Salah satu langkahnya adalah akan menyediakan BBM Money pada pengguna BBM di platform Android, iOS, dan Windows Phone awal 2015. Langkah lainnya adalah mengintegrasikan BBM dengan TransferTo untuk mengirimkan pulsa antar kontak di lebih dari 350 operator jaringan MVNO di lebih dari 100 negara. “Dengan persentase pengguna ponsel prabayar yang sangat besar, mengirimkan atau menerima pulsa prabayar dari keluarga atau teman di luar negeri lewat kontak BBM dapat dimungkinkan. Banyak orang akan memperoleh manfaat dengan keberadaan TransferTo ini di layanan BBM,” tambah Matthew.

Bagi dunia perbankan menurut Bianto Surodjo, Retail Banking Director Bank Permata, fokus pengembangan BBM Money memang masih dengan memperbesar cakupan dengan memanfaatkan platform lain. Ketika ditanyakan mengenai keberadaan merchant yang belum memadai , Bianto menjelaskan memang pengembangan mobile money harus melalui beberapa tahapan. “Setelah lintas platform, pasti kita akan menggarap merchant sehingga konsumen BBM Money bisa memanfaatkan dompet digitalnya untuk berbelanja barang di toko atau restoran,” ungkap Bianto.
Fenomena menarik lain yang dapat diamati adalah bagaimana pasar di Indonesia dipaksa siap untuk menerima pembayaran non-tunai. Contoh paling gamblang adalah bagaimana para penumpang kereta komuter Jakarta sebaiknya menggunakan KMT (Kartu Multi Trip) agar perjalanan lebih nyaman. KMT ini sekarang tak hanya dikeluarkan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek tapi juga dapat menggunakan kartu elektronik keluaran perbankan. Awalnya memang cukup merepotkan, tetapi lihat saja bagaimana sekarang. Masyarakat pun mau antri untuk menggunakan kartu non-tunai untuk bertransaksi. Pemandangan serupa juga ada di busway TransJakarta di beberapa koridor yang mengharuskan penumpang menggunakan kartu non tunai dari bank. Meski sempat diprotes di awal penggunaan, tetapi kebijakan itu tetap jalan terus.
Ini artinya, ketika kartu itu nanti ditanam di ponsel, tentu akan semakin memudahkan. Tak perlu repot top-up karena bisa dilakukan dari smartphone, tak perlu pula men-tap kartu karena cukup men-tap ponsel ke gerbang, Anda pun sudah membayar tarif transportasi yang dibebankan. Rasanya, untuk hal ini Indonesia sudah siap seperti layaknya Jepang atau negara-negara maju lainnya.
Bila beberapa negara telah matang menerapkan mobile money seperti di Jepang dengan FeLiCa atau Korea dan beberapa negara Skandinavia, namun popularitas m-money tak kunjung mencuat. Meskipun ekosistem sudah dibangun, tetap saja belum bisa mendongkrak penggunaan m-money secara meluas. Studi dari Bain and Co mengukuhkan hal tersebut. Dalam penelitian terhadap 25 ribu konsumen di Amerika Serikat dan Eropa Barat ditemukan banyak yang sudah siap menggunakan uang virtual dari ponsel, dan sebagian lainnya telah menggunakan untuk pembayaran. Sementara untuk berbelanja di toko (in-store mobile payment) relatif masih kecil hanya 3-7% konsumen yang menggunakannya untuk membeli kopi, buku, atau barang fisik lain di toko. Tapi angka itu tumbuh cepat yaitu hampir dua kali yang dilakukan pada tahun lalu. 16-27% responden mengatakan akan mencoba layanan pembayaran tergantung dari mana asal negara mereka. (lihat tabel)
Hambatan terbesar dari penerapan m-money adalah kebiasaan membayar (habit of payment) yang cukup sulit diubah. Konsumen merasa bahwa alat pembayaran saat ini sudah cukup buat mereka, meskipun nantinya mereka akan juga mengadopsi sistem baru. Faktor ini dapat dikatakan bersifat global, meskipun di beberapa negara ada juga cerita sukses menerapkan mobile money seperti yang terjadi di beberapa negara Afrika. Konsumen di Afrika misalnya tak perlu menjadi nasabah bank karena ponsel pun sudah bisa mewakili mereka dalam berbagai transaksi keuangan. Aneh, bukan?
Harapan Apple Pay
Banyak kalangan menyebut keberhasilan sebuah sistem keuangan melibatkan porsi banyak pihak. Dari sisi regulasi perlu ada dukungan dari pemerintah dengan mengeluarkan beleid yang mendukung penerapan masyarakat non-tunai (cashless society). Dari sisi ini, regulasi dari Bank Indonesia sudah jelas mendukung penerapan mobile money dalam skala luas. Tapi pelibatan berbagai pihak seperti merchant, penyedia prosessor payment, bank yang mengeluarkan kartu, operator, pembuat ponsel serta penyedia mobile wallet menjadi kunci penting keberhasilan penerapan metode transaksi virtual ini. Coba dibayangkan kalau satu pihak tidak siap, misalnya merchant, ketika konsumen hanya membawa uang dalam bentuk virtual dan mau tak mau mesti membayar sesuatu tapi merchant tidak siap, sia-sia belaka mobile money diterapkan.
Pada konteks itu, kehadiran Apple Pay diyakini akan mendongkrak mobile money dalam skala luas. Apple sebagai merek global dengan beragam produk langsung melakukan kerjasama dengan penerbit kartu kredit seperti MasterCard, Visa, dan American Express untuk memudahkan pembayaran virtual ke depan. Tak seperti Google yang sulit mengontrol produknya, Apple dapat memastikan produknya mendukung sistem pembayaran ini. Terlebih bila di Amerika Serikat, 40% pasar smartphone dikuasai Apple. Juga dengan lebih dari 800 juta orang pemegang akun iTunes yang selama ini percaya dengan model pembayaran yang digagas oleh Apple. Dengan bisnis sekitar USD 20 milyar setahun, bisnis Apple dari sektor non-hardware ini tentu pasar yang besar. Dari sisi waktu, kemunculan Apple Pay juga terlihat tepat ketika smartphone sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat modern.
Soal keamanan transaksi yang biasanya jadi keluhan sudah diantisipasi oleh Apple. Mereka menggunakan NFC yang sudah ada di iPhone 6 yang memungkinkan pembayar tanpa kontak melalui kartu kredit atau debit yang tersimpan di Secure Element yaitu sebuah chipset khusus di dalam ponsel. Tak cuma itu, Apple mengkombinasikan dengan aplikasi Passbook serta TouchID untuk autentikasi lewat sidik jari pengguna. Kunci dari penggunaan ini adalah data diletakkan di tempat khusus dan bukan server Apple. Apple menggunakan kode keamanan dinamis untuk memvalidasi semua transaksi ketika Device Account Number dikeluarkan, lalu dienkripsi dan tersimpan aman di Secure Element. Transaksi akan diotorasi dengan sebuah nomor unik atau token dari nomor yang tersimpan di Secure Element sebagai kode unik setiap bertransaksi. Mirip seperti menggunakan token untuk transaksi melalui internet banking.
“Ini langkah besar, ketika Apple menggunakan NFC akan kita lihat momentum untuk pembayaran digital dan layanan non-sentuh lainnya,” kata Steve Perry, Chief Digital Officer Visa Eropa. “Apple dikenal memiliki kekuatan dalam memanjakan konsumennya dan kami harap dukungan ke NFC akan jadi tonggak adopsi oleh konsumen di seluruh dunia,” tambahnya.
Bagaimana Indonesia?
Merujuk pada riset mutakhir yang dilakukan Ericsson Consumer Lab menunjukkan 54% responden di Indonesia telah menggunakan layanan transfer uang (mengirimkan atau menerima uang). Angka itu termasuk tinggi dibanding Vietnam dengan 34% dan Bangladesh 34%. Pada saat yang sama, ketertarikan dan kesadaran warga Bangladesh pada layanan transfer uang adalah 100% karena popularitas bKash sebagai layanan transfer uang di negara tersebut. Sedangkan di Indonesia yang menyatakan tertarik sekitar 49% dan di Vietnam 35%.
Upaya lebih menarik datang dari BlackBerry. Sadar dengan pengguna layanan chat BBM yang bejibun di Indonesia, mereka membuat eksplorasi yaitu BBM Money sejak awal tahun lalu. Layanan ini semacam mobile wallet yang memungkinkan pengguna BBM mengirimkan uang ke kontak BBM, melakukan top up pulsa, dan membayar tagihan. Layanan ini dibangun oleh Monetise Indonesia dan Bank Permata menggunakan passcode dan keamanan level perbankan yang dipersyaratkan. Setidaknya ada sekitar 100 ribu pengguna yang memanfaatkan BBM Money hingga saat ini. “Kami ingin melihat pasar dan mendapatkan umpan balik dari pengguna. Kami juga belajar sejumlah layanan yang akan menarik dan melihat bahwa masyarakat Indonesia siap dengan mobile payment,” kata Matthew Talbot, Senior Vice President Emerging Solution BlackBerry saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.
Indonesia, tambah Matthew, merupakan pasar yang sempurna bagi BBM Money. Menurutnya ada empat alasan yaitu pertama bahwa ada banyak pelanggan BBM di Tanah Air, bahkan pengguna BBM terbesar dunia ada di Indonesia. Kedua, BlackBerry punya brand kuat terutama reputasi soal keamanan dan privacy sehingga menjadi modal kuat dalam layanan keuangan. Ketiga, karena popularitasnya tersebut maka banyak brand maupun retailers ikut serta dalam layanan BBM Channel untuk terkoneksi ke pelanggan. Nama-nama brand seperti Coca-Cola hingga Garuda Indonesia memanfaatkan kanal ini untuk menyapa pengguna BBM. Keempat, Indonesia masih termasuk masyarakat berbasis uang tunai. Sesuai dengan laporan MasterCard terbaru hanya 31% konsumen yang sudah cashless, 20% orang yang punya rekening, dan hanya 11% yang memiliki kartu debit. Jadi ada ruang terbuka untuk infrastruktur pembayaran tumbuh. Terlebih lagi sebagai negara dengan populasi keempat terbesar di dunia dan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, layaklah bila mobile payment siap diterapkan di Indonesia.
Tak berlebihan bila pada 18 September 2014 lalu, BlackBerry mengumumkan akan meningkatkan kemampuan mobile payment untuk pengguna BBM. Salah satu langkahnya adalah akan menyediakan BBM Money pada pengguna BBM di platform Android, iOS, dan Windows Phone awal 2015. Langkah lainnya adalah mengintegrasikan BBM dengan TransferTo untuk mengirimkan pulsa antar kontak di lebih dari 350 operator jaringan MVNO di lebih dari 100 negara. “Dengan persentase pengguna ponsel prabayar yang sangat besar, mengirimkan atau menerima pulsa prabayar dari keluarga atau teman di luar negeri lewat kontak BBM dapat dimungkinkan. Banyak orang akan memperoleh manfaat dengan keberadaan TransferTo ini di layanan BBM,” tambah Matthew.
Bagi dunia perbankan menurut Bianto Surodjo, Retail Banking Director Bank Permata, fokus pengembangan BBM Money memang masih dengan memperbesar cakupan dengan memanfaatkan platform lain. Ketika ditanyakan mengenai keberadaan merchant yang belum memadai , Bianto menjelaskan memang pengembangan mobile money harus melalui beberapa tahapan. “Setelah lintas platform, pasti kita akan menggarap merchant sehingga konsumen BBM Money bisa memanfaatkan dompet digitalnya untuk berbelanja barang di toko atau restoran,” ungkap Bianto.
Fenomena menarik lain yang dapat diamati adalah bagaimana pasar di Indonesia dipaksa siap untuk menerima pembayaran non-tunai. Contoh paling gamblang adalah bagaimana para penumpang kereta komuter Jakarta sebaiknya menggunakan KMT (Kartu Multi Trip) agar perjalanan lebih nyaman. KMT ini sekarang tak hanya dikeluarkan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek tapi juga dapat menggunakan kartu elektronik keluaran perbankan. Awalnya memang cukup merepotkan, tetapi lihat saja bagaimana sekarang. Masyarakat pun mau antri untuk menggunakan kartu non-tunai untuk bertransaksi. Pemandangan serupa juga ada di busway TransJakarta di beberapa koridor yang mengharuskan penumpang menggunakan kartu non tunai dari bank. Meski sempat diprotes di awal penggunaan, tetapi kebijakan itu tetap jalan terus.
Ini artinya, ketika kartu itu nanti ditanam di ponsel, tentu akan semakin memudahkan. Tak perlu repot top-up karena bisa dilakukan dari smartphone, tak perlu pula men-tap kartu karena cukup men-tap ponsel ke gerbang, Anda pun sudah membayar tarif transportasi yang dibebankan. Rasanya, untuk hal ini Indonesia sudah siap seperti layaknya Jepang atau negara-negara maju lainnya.