Indonesia Tiga Besar Pasar Smartphone Dunia
Daur hidup smartphone akhirnya mirip seperti ponsel. Pasar smartphone yang awalnya didominasi negara maju kini sudah mulai jenuh. Buktinya...
https://reviewkitabeta.blogspot.com/2014/09/indonesia-tiga-besar-pasar-smartphone.html
Daur hidup smartphone akhirnya mirip seperti ponsel. Pasar smartphone yang awalnya didominasi negara maju kini sudah mulai jenuh. Buktinya, riset yang dilakukan GfK bertajuk Target Setter menunjukkkan bahwa penjualan smartphone global akan tumbuh 18% pada 2015. Pertumbuhan itu disumbang oleh tumbuhnya permintaan di negara-negara ketiga (emerging market) akan smartphone terjangkau.
Tak mengherankan bila tahun depan vendor smartphone akan berkonsentrasi ke negara berkembang karena dari hitung-hitungan GfK pertumbuhan smartphone tahun depan akan fokus ke India, Cina, dan Indonesia. Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris yang selama 2014 menjadi pasar dengan partumbuhan tertinggi dari sisi nilai terlempar dari 10 besar. Dikutip dari laman Telegraph , Kevin Walsh, direktur forecasting GfK mengatakan,”Perkiraan kami tujuh dari 10 besar pasar smartphone 2015 dari sisi nilai semuanya adalah pasar yang baru tumbuh dan pasar sebelumnya sudah mulai jenuh,” kata Kevin. “Pasar di tahun depan yang paling banyak tumbuh adalah harga USD30- USD50,”ungkapnya. Dengan harga seperti itu, smartphone dengan bermacam merek memang tumbuh subur di negara-negara ketiga.
Pendapat serupa datang dari Djatmiko Wardoyo, Direktur Komunikasi Pemasaran PT Erajaya Swasembada Tbk. Menurut Koko –panggilan akrab Djatmiko- definisi smartphone yang identik dengan penggunaan sistem operasi ponsel menjelma ke ponsel kelas menengah bawah. “Ponsel Android kini sudah banyak yang seharga Rp.500-Rp600 ribuan,” katanya. Yang bermain di segmen itu juga tidak sedikit karena rata-rata vendor merek lokal memiliki produk di level tersebut. “Pasarnya masih sangat luas karena menggantikan pengguna ponsel yang ingin beralih ke smartphone tetapi bujetnya terbatas,”ujarnya saat diskusi dengan awak media beberapa waktu lalu di Jakarta. Ibarat piramida, pasar akan semakin membesar ke bawah dengan daya beli lebih rendah dan menginginkan produk smartphone yang terjangkau kantong. Dalam hitung-hitungan GfK, 10 besar pasar smartphone 2014 akan tumbuh sekitar USD 10 milyar, separuhnya ada di India yaitu USD 4,8 milyar atau tumbuh 16% pada 2015. Pada saat yang sama pasar global masih tetap rata yaitu USD 1 triliun. Negara dengan pertumbuhan mirip India adalah Pakistan dengan 15% serta Nigeria dan Bangladesh dengan 13%.
[caption id="attachment_8186" align="aligncenter" width="300" class=" "]
sumber : telegraph.co.uk[/caption]
Situasi pasar negara berkembang yang sangat luas itu seperti mengulangi daur hidup pasar ponsel. Saat feature phone harganya mahal ketika dikeluarkan oleh vendor ponsel Eropa, setelah mulai terjangkau ke masyarakat lebih luas dan skala produksi makin meluas maka harga pun dapat ditekan. Alhasil, pasar negara berkembang yang penduduknya relatif lebih banyak dari negara maju bisa memperoleh harga ponsel yang lebih murah dengan kualitas tak kalah bagus. Kondisi ini pula yang terjadi dengan smartphone.
Pertanyaannya, setelah jadi smartphone lantas ponsel akan berevolusi lagi seperti apa?
Tak mengherankan bila tahun depan vendor smartphone akan berkonsentrasi ke negara berkembang karena dari hitung-hitungan GfK pertumbuhan smartphone tahun depan akan fokus ke India, Cina, dan Indonesia. Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris yang selama 2014 menjadi pasar dengan partumbuhan tertinggi dari sisi nilai terlempar dari 10 besar. Dikutip dari laman Telegraph , Kevin Walsh, direktur forecasting GfK mengatakan,”Perkiraan kami tujuh dari 10 besar pasar smartphone 2015 dari sisi nilai semuanya adalah pasar yang baru tumbuh dan pasar sebelumnya sudah mulai jenuh,” kata Kevin. “Pasar di tahun depan yang paling banyak tumbuh adalah harga USD30- USD50,”ungkapnya. Dengan harga seperti itu, smartphone dengan bermacam merek memang tumbuh subur di negara-negara ketiga.
Pendapat serupa datang dari Djatmiko Wardoyo, Direktur Komunikasi Pemasaran PT Erajaya Swasembada Tbk. Menurut Koko –panggilan akrab Djatmiko- definisi smartphone yang identik dengan penggunaan sistem operasi ponsel menjelma ke ponsel kelas menengah bawah. “Ponsel Android kini sudah banyak yang seharga Rp.500-Rp600 ribuan,” katanya. Yang bermain di segmen itu juga tidak sedikit karena rata-rata vendor merek lokal memiliki produk di level tersebut. “Pasarnya masih sangat luas karena menggantikan pengguna ponsel yang ingin beralih ke smartphone tetapi bujetnya terbatas,”ujarnya saat diskusi dengan awak media beberapa waktu lalu di Jakarta. Ibarat piramida, pasar akan semakin membesar ke bawah dengan daya beli lebih rendah dan menginginkan produk smartphone yang terjangkau kantong. Dalam hitung-hitungan GfK, 10 besar pasar smartphone 2014 akan tumbuh sekitar USD 10 milyar, separuhnya ada di India yaitu USD 4,8 milyar atau tumbuh 16% pada 2015. Pada saat yang sama pasar global masih tetap rata yaitu USD 1 triliun. Negara dengan pertumbuhan mirip India adalah Pakistan dengan 15% serta Nigeria dan Bangladesh dengan 13%.
[caption id="attachment_8186" align="aligncenter" width="300" class=" "]
Situasi pasar negara berkembang yang sangat luas itu seperti mengulangi daur hidup pasar ponsel. Saat feature phone harganya mahal ketika dikeluarkan oleh vendor ponsel Eropa, setelah mulai terjangkau ke masyarakat lebih luas dan skala produksi makin meluas maka harga pun dapat ditekan. Alhasil, pasar negara berkembang yang penduduknya relatif lebih banyak dari negara maju bisa memperoleh harga ponsel yang lebih murah dengan kualitas tak kalah bagus. Kondisi ini pula yang terjadi dengan smartphone.
Pertanyaannya, setelah jadi smartphone lantas ponsel akan berevolusi lagi seperti apa?
