Spektrum 900 MHz Mengawali Komersialisasi 4G LTE
Layanan 4G LTE yang diperkirakan akan komersial pertengahan tahun depan memunculkan optimisme baru bagi operator selular. Pelanggan data mob...
https://reviewkitabeta.blogspot.com/2014/11/spektrum-900-mhz-mengawali.html
Layanan 4G LTE yang diperkirakan akan komersial pertengahan tahun depan memunculkan optimisme baru bagi operator selular. Pelanggan data mobile akan punya banyak pilihan
Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Kerja memang lekat dengan Indosat. Bagaimana tidak, sebelum dilantik menjadi menteri, Chef RA –panggilan akrab Rudiantara- masih tercatat sebagai komisaris independen Indosat dan di operator ini pula Rudiantara mengawali karir di dunia telekomunikasi. Tak heran ketika didaulat ke panggung oleh Presdir dan CEO Indosat Alexander Rusli saat perayaan ulang tahun ke-47 Indosat pada 20 November lalu, Rudiantara terbilang akrab dengan direksi saat ini yang dihuni beberapa ekspatriat maupun mantan direksi Indosat yang saat itu juga hadir seperti Jhonny Swandy Sjam, Indra Setiawan, hingga Hari Kartana.
Dengan baju kerja khas, baju putih panjang yang digulung lengannya, Rudiantara dengan fasih memaparkan bagaimana operator harus bekerja me-manage ekspektasi pelanggan dengan 4G. Kementerian Komunikasi dan Informatika siap memberi ijin komersial jaringan 4G LTE di frekuensi 900 MHz pada akhir 2014. “Sebenarnya yang banyak digunakan di seluruh dunia pada rentang frekuensi 1800 MHz, tapi di Indonesia belum siap. Yang siap baru di 900 MHz,” ujar Rudiantara. Pihaknya siap memberikan ijin komersial untuk jaringan 4G LTE operator telekomunikasi di frekuensi 900 MHz pada akhir 2014 mendatang. Tentu sebelumnya jaringan harus lulus sertifikasi dari vendor dan ULO (uji laik operasi) terlebih dahulu. “Mudah-mudahan kami harapkan pada pertengahan 2015 4G LTE akan komersial dan dapat dirasakan oleh pelanggan,”tambahnya.
Pada kesempatan ulang tahun ke-47 Indosat tersebut, Indosat melakukan ujicoba jaringan LTE yang diklaim tercepat di Indonesia. Dengan nama Super 4G-LTE yang mampu menembus kecepatan hingga 185 Mbps download dan 41 Mbps untuk upload. “Kami melakukan pengujian menggunakan 10 MHz di frekuensi 1800 MHz dan 5 MHz di frekuensi 900 MHz,” kata Alexander Rusli. Di tampuk kepemimpinan Alex ini memang Indosat fokus untuk membangun jaringan modern. Dimulai dengan peluncuran ‘Indosat Super 3G+’ dengan kecepatan hingga 7.2 Mbps. Dilanjutkan dengan menghadirkan ‘Indosat Super WiFi’ di 8 kota besar dengan kecepatan hingga 20 Mbps. Selanjutnya, proses modernisasi jaringan dengan mengenalkan ‘Super Internet’ memakai teknologi U900 dan DC-HSPA+ di 23 kota dengan kecepatan hingga 42 Mbps, yang memberikan kualitas sinyal lebih baik di indoor dan outdoor. Teknologi itu diklaim mampu meningkatkan kualitas layanan suara dan SMS, juga memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan data untuk berbagai aktifitas dunia maya seperti browsing, upload file, atau melihat HD video serta live streaming. Ketika mengenalkan uji Super 4G-LTE ini proses modernisasi jaringan di 23 kota selesai.
Bagi Indosat, tambah Alex Rusli, keberhasilan 4G LTE akan ditentukan banyak hal. “Harus ada ekosistem penunjang seperti aplikasi hingga ketersediaan handset agar masyarakat dapat merasakan layanan 4G dengan optimal,” ujarnya. Indosat saat ini bekerjasama dengan berbagai mitra konten seperti Orange-TV (genflix), EA Games, Gameloft untuk menyediakan layanan hiburan, berita, kesehatan, pendidikan, solusi bisnis, dan lain-lain. Pelanggan juga mudah membeli konten digital dengan cara potong pulsa dari berbagai store, aplikasi dan web seperti BlackBerry store, Facebook Credit, Nokia store, Windows market place, KakaoTalk, game online melalui Coda dan Mopay payment gateways. Sebentar lagi, Indosat juga menjalin kerjasama dengan mitra internasional terkemuka untuk layanan yang sama. Agar terus bisa mengembangkan ekosistem yang telah dibangun tersebut, Indosat juga mendorong munculnya para pelaku industri konten lokal melalui pengembangan program inkubasi bagi para developer muda melalui IWIC dan Ideabox.
Meramal Nasib 3G
Ketika 4G benar-benar komersial, pertanyaan besar yang menggelayut adalah bagaimana dengan 3G yang notabene utilisasi jaringannya masih rendah. “Pertanyaan ini seperti ketika 3G muncul, akan kemana pelanggan 2G,” kata Alexander Rusli. Ketika 4G ad,a dengan menawarkan kecepatan data yang tinggi diharapkan masyarakat akan lebih tertarik menggunakan 3G karena juga menawarkan kecepatan tinggi walau tidak secepat 4G LTE. Ibarat meruncing ke atas, kehadiran 4G diharapkan akan memancing pengguna 2G/EDGE untuk beralih ke 3G.
Riset mutakhir dari Ericsson bertajuk Ericsson Mobility Report 2014 yang dirilis November 2014 mengkonfirmasi hal tersebut. Negara-negara berkembang di Asia Tenggara akan menjadi tuan rumah naiknya pemakaian 3G/HSPA dalam lima tahun ke depan. Alasannya karena pengguna telah bergeser menggunakan terminal yang lebih baru dan berkecepatan makin tinggi sehingga diperkirakan lima tahun ke depan akan menjadi wilayah pengguna 3G/HSPA yang paling dominan. Sementara di wilayah yang pasarnya telah matang dengan 3G/HSPA, operator hanya memiliki sedikit pelanggan dengan koneksi GSM/EDGE saja. Situasi ini memungkinkan mereka untuk mempertimbangkan untuk mengatur ulang (refarming) spektrum 2G sehingga mendapat efisiensi spektrum untuk menghemat pengeluaran operasi. Di Australia sebagai contoh, ada operator yang telah mengumumkan rencana untuk menutup jaringan GSM/EDGE pada akhir 2016 mendatang. (lihat grafik)
[caption id="attachment_8324" align="alignnone" width="300"]
sumber : Ericsson Mobility Report untuk kawasan Asia Tenggara (2014)[/caption]
Bila melihat trend penggunaan teknologi selular di wilayah Asia Tenggara tersebut, jalur untuk menuju akses mobile data yang makin cepat memang terbuka. Terlebih bagi para pengembang aplikasi, seperti dipesankan oleh Rudiantara untuk mengajak anak muda pengembang aplikasi yang ada di luar negeri untuk kembali ke Tanah Air dan ikut membangun ekosistem aplikasi berbasis 4G. Kalau ini bisa terjadi masa gigit jari seperti yang dialami operator di jaringan 3G tidak akan lagi berulang ketika 4G LTE komersial.
Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Kerja memang lekat dengan Indosat. Bagaimana tidak, sebelum dilantik menjadi menteri, Chef RA –panggilan akrab Rudiantara- masih tercatat sebagai komisaris independen Indosat dan di operator ini pula Rudiantara mengawali karir di dunia telekomunikasi. Tak heran ketika didaulat ke panggung oleh Presdir dan CEO Indosat Alexander Rusli saat perayaan ulang tahun ke-47 Indosat pada 20 November lalu, Rudiantara terbilang akrab dengan direksi saat ini yang dihuni beberapa ekspatriat maupun mantan direksi Indosat yang saat itu juga hadir seperti Jhonny Swandy Sjam, Indra Setiawan, hingga Hari Kartana.
Dengan baju kerja khas, baju putih panjang yang digulung lengannya, Rudiantara dengan fasih memaparkan bagaimana operator harus bekerja me-manage ekspektasi pelanggan dengan 4G. Kementerian Komunikasi dan Informatika siap memberi ijin komersial jaringan 4G LTE di frekuensi 900 MHz pada akhir 2014. “Sebenarnya yang banyak digunakan di seluruh dunia pada rentang frekuensi 1800 MHz, tapi di Indonesia belum siap. Yang siap baru di 900 MHz,” ujar Rudiantara. Pihaknya siap memberikan ijin komersial untuk jaringan 4G LTE operator telekomunikasi di frekuensi 900 MHz pada akhir 2014 mendatang. Tentu sebelumnya jaringan harus lulus sertifikasi dari vendor dan ULO (uji laik operasi) terlebih dahulu. “Mudah-mudahan kami harapkan pada pertengahan 2015 4G LTE akan komersial dan dapat dirasakan oleh pelanggan,”tambahnya.
Pada kesempatan ulang tahun ke-47 Indosat tersebut, Indosat melakukan ujicoba jaringan LTE yang diklaim tercepat di Indonesia. Dengan nama Super 4G-LTE yang mampu menembus kecepatan hingga 185 Mbps download dan 41 Mbps untuk upload. “Kami melakukan pengujian menggunakan 10 MHz di frekuensi 1800 MHz dan 5 MHz di frekuensi 900 MHz,” kata Alexander Rusli. Di tampuk kepemimpinan Alex ini memang Indosat fokus untuk membangun jaringan modern. Dimulai dengan peluncuran ‘Indosat Super 3G+’ dengan kecepatan hingga 7.2 Mbps. Dilanjutkan dengan menghadirkan ‘Indosat Super WiFi’ di 8 kota besar dengan kecepatan hingga 20 Mbps. Selanjutnya, proses modernisasi jaringan dengan mengenalkan ‘Super Internet’ memakai teknologi U900 dan DC-HSPA+ di 23 kota dengan kecepatan hingga 42 Mbps, yang memberikan kualitas sinyal lebih baik di indoor dan outdoor. Teknologi itu diklaim mampu meningkatkan kualitas layanan suara dan SMS, juga memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan data untuk berbagai aktifitas dunia maya seperti browsing, upload file, atau melihat HD video serta live streaming. Ketika mengenalkan uji Super 4G-LTE ini proses modernisasi jaringan di 23 kota selesai.
Bagi Indosat, tambah Alex Rusli, keberhasilan 4G LTE akan ditentukan banyak hal. “Harus ada ekosistem penunjang seperti aplikasi hingga ketersediaan handset agar masyarakat dapat merasakan layanan 4G dengan optimal,” ujarnya. Indosat saat ini bekerjasama dengan berbagai mitra konten seperti Orange-TV (genflix), EA Games, Gameloft untuk menyediakan layanan hiburan, berita, kesehatan, pendidikan, solusi bisnis, dan lain-lain. Pelanggan juga mudah membeli konten digital dengan cara potong pulsa dari berbagai store, aplikasi dan web seperti BlackBerry store, Facebook Credit, Nokia store, Windows market place, KakaoTalk, game online melalui Coda dan Mopay payment gateways. Sebentar lagi, Indosat juga menjalin kerjasama dengan mitra internasional terkemuka untuk layanan yang sama. Agar terus bisa mengembangkan ekosistem yang telah dibangun tersebut, Indosat juga mendorong munculnya para pelaku industri konten lokal melalui pengembangan program inkubasi bagi para developer muda melalui IWIC dan Ideabox.
Meramal Nasib 3G
Ketika 4G benar-benar komersial, pertanyaan besar yang menggelayut adalah bagaimana dengan 3G yang notabene utilisasi jaringannya masih rendah. “Pertanyaan ini seperti ketika 3G muncul, akan kemana pelanggan 2G,” kata Alexander Rusli. Ketika 4G ad,a dengan menawarkan kecepatan data yang tinggi diharapkan masyarakat akan lebih tertarik menggunakan 3G karena juga menawarkan kecepatan tinggi walau tidak secepat 4G LTE. Ibarat meruncing ke atas, kehadiran 4G diharapkan akan memancing pengguna 2G/EDGE untuk beralih ke 3G.
Riset mutakhir dari Ericsson bertajuk Ericsson Mobility Report 2014 yang dirilis November 2014 mengkonfirmasi hal tersebut. Negara-negara berkembang di Asia Tenggara akan menjadi tuan rumah naiknya pemakaian 3G/HSPA dalam lima tahun ke depan. Alasannya karena pengguna telah bergeser menggunakan terminal yang lebih baru dan berkecepatan makin tinggi sehingga diperkirakan lima tahun ke depan akan menjadi wilayah pengguna 3G/HSPA yang paling dominan. Sementara di wilayah yang pasarnya telah matang dengan 3G/HSPA, operator hanya memiliki sedikit pelanggan dengan koneksi GSM/EDGE saja. Situasi ini memungkinkan mereka untuk mempertimbangkan untuk mengatur ulang (refarming) spektrum 2G sehingga mendapat efisiensi spektrum untuk menghemat pengeluaran operasi. Di Australia sebagai contoh, ada operator yang telah mengumumkan rencana untuk menutup jaringan GSM/EDGE pada akhir 2016 mendatang. (lihat grafik)
[caption id="attachment_8324" align="alignnone" width="300"]
Bila melihat trend penggunaan teknologi selular di wilayah Asia Tenggara tersebut, jalur untuk menuju akses mobile data yang makin cepat memang terbuka. Terlebih bagi para pengembang aplikasi, seperti dipesankan oleh Rudiantara untuk mengajak anak muda pengembang aplikasi yang ada di luar negeri untuk kembali ke Tanah Air dan ikut membangun ekosistem aplikasi berbasis 4G. Kalau ini bisa terjadi masa gigit jari seperti yang dialami operator di jaringan 3G tidak akan lagi berulang ketika 4G LTE komersial.