Smartphone Tumbuh Menjulang, Kemana Baterai?
Perangkat mobile berupa smartphone, ponsel, tablet, notebook, hingga wearable devices pada 2019 diperkirakan akan berjumlah 8 milyar unit...
https://reviewkitabeta.blogspot.com/2014/10/smartphone-tumbuh-menjulang-kemana.html
Perangkat mobile berupa smartphone, ponsel, tablet, notebook, hingga wearable devices pada 2019 diperkirakan akan berjumlah 8 milyar unit. Tapi pertanyaannya, bagaimana dengan baterai dan teknologi isi ulang baterai? Apakah masih seperti sekarang yang malah bergantung pada powerbank dibanding munculnya terobosan revolusioner di bidang catu daya tersebut?
“Hardware, software, dan pemakaian mobile device naik drastis dari tahun ke tahun seperti kecepatan, resolusi layar, ukuran, hingga kemampuan prosessor. Pengguna juga semakin tumbuh dalam konsumsi data. Masalahnya ada pada baterai dan teknologi isi ulang baterai, ketika ingin diterapkan biasanya ada pada ukuran fisik yang jadi masalah,” ujar Nick Spencer, senior practice director dari ABI Research seperti dikutip dari laman resmi lembaga tersebut. Teknologi baterai maupun isi ulang tidak sejajar mengikuti perkembangan teknologi peranti keras maupun lunak pada perangkat mobile karena sampai sekarang masih menggunakan Lithium dan solusi isi ulang menggunakan micro-USB charger. Teknologi baru pada baterai seperti silikon anoda ,Germanium, hingga hidrogen secara ekonomis masih belum bisa menggantikan Lithium.
“Potensinya besar, kami mencatat setidaknya ada 10 device dengan baterai rechargable. Pertumbuhan wearable devices dan IoT (Internet of Things) akan memicu pertumbuhan baru,” tambahnya. Sementara, teknologi isi ulang baterai saat ini masih satu per satu menggunakan kabel listrik. Terobosan teknologi dibutuhkan misalnya isi ulang massal menggunakan jaringan nirkabel seperti WiFi sehingga di ruang publik pun pengguna peranti mobile bisa mengisi ulang baterai dengan mudah.
Tapi, terlepas dari jenis baterai baru maupun model teknologi isi ulang baterai, yang jelas selalu ada terobosan kreatif dalam menjembatani masalah ini. Tengok saja, begitu banyak penyedia powerbank yang siap sedia saat Anda tak bawa charger maupun tak peroleh colokan listrik. Jadi, tetap asoy dengan peranti mobile karena sokongan catu daya didapat dari powerbank.
“Hardware, software, dan pemakaian mobile device naik drastis dari tahun ke tahun seperti kecepatan, resolusi layar, ukuran, hingga kemampuan prosessor. Pengguna juga semakin tumbuh dalam konsumsi data. Masalahnya ada pada baterai dan teknologi isi ulang baterai, ketika ingin diterapkan biasanya ada pada ukuran fisik yang jadi masalah,” ujar Nick Spencer, senior practice director dari ABI Research seperti dikutip dari laman resmi lembaga tersebut. Teknologi baterai maupun isi ulang tidak sejajar mengikuti perkembangan teknologi peranti keras maupun lunak pada perangkat mobile karena sampai sekarang masih menggunakan Lithium dan solusi isi ulang menggunakan micro-USB charger. Teknologi baru pada baterai seperti silikon anoda ,Germanium, hingga hidrogen secara ekonomis masih belum bisa menggantikan Lithium.
“Potensinya besar, kami mencatat setidaknya ada 10 device dengan baterai rechargable. Pertumbuhan wearable devices dan IoT (Internet of Things) akan memicu pertumbuhan baru,” tambahnya. Sementara, teknologi isi ulang baterai saat ini masih satu per satu menggunakan kabel listrik. Terobosan teknologi dibutuhkan misalnya isi ulang massal menggunakan jaringan nirkabel seperti WiFi sehingga di ruang publik pun pengguna peranti mobile bisa mengisi ulang baterai dengan mudah.
Tapi, terlepas dari jenis baterai baru maupun model teknologi isi ulang baterai, yang jelas selalu ada terobosan kreatif dalam menjembatani masalah ini. Tengok saja, begitu banyak penyedia powerbank yang siap sedia saat Anda tak bawa charger maupun tak peroleh colokan listrik. Jadi, tetap asoy dengan peranti mobile karena sokongan catu daya didapat dari powerbank.
